INILAH.COM, Jakarta - Keputusan penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia dinilai sebagai bukti adanya intervensi negara yang tinggi. Namun kebijakan itu pada akhirnya hanya menimbulkan kepanikan publik.
Demikian disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, melalui pesan singkat yang diterima INILAH.COM di Jakarta, Rabu (8/10).
"Suspensi perdagangan saham atau menutup bursa saham bukanlah tindakan popular. Citra atau persepsi terhadap bursa saham kita akan negatif. Seperti juga yang dilakukan terhadap enam emiten dalam kelompok Bakrie," ujarnya.
Tindakan itu, lanjut Bambang, merupakan intervensi negara yang terlalu berlebihan, dan hanya akan menambah bobot panik serta kegelisahan di masyarakat. "Koreksi harga saham di BEI merupakan konsekuensi logis dari keterbukaan pasar dan perekonomian kita. Lagi pula, harga saham dan posisi IHSG memang fluktuatif," ungkapnya.
Lebih lanjut, kata Bambang, jika saat ini masuk pada periode koreksi, biarkanlah koreksi itu berlangsung alamiah. "Kita hanya bisa mengimbau masyarakat, khususnya investor di pasar modal untuk tidak panik dan spekulatif," paparnya. [L5]