INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah sore ini kembali melemah terimbas sentimen negatif dari suspensi pasar bursa yang anjlok sangat dalam. Investor masih memburu dolar untuk melepaskan diri dari kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Rupiah pada perdagangan Rabu (8/10) ditutup melemah 35 poin ke posisi 9.595 setelah sempat menyentuh level terendahnya di posisi 9.795 per dolar AS. Pada perdagangan valas kemarin, rupiah ditutup di level 9.560 per dolar AS,
Dirut PT Finan Corpindo Edwin Sinaga mengatakan, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank Jakarta terus bergerak turun. Hal ini karena investor masih memburu dolar kendati BI telah melakukan berbagai upaya untuk menahan tekanan dengan menaikkan suku bunga BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,5%.
"Tekanan pasar yang cukup kuat masih menekan rupiah, sekalipun BI telah menaikkan BI rate dan melepas cadangan dolarnya ke pasar," kata Edwin di Jakarta, Rabu (8/10).
Menurutnya, pelaku pasar panik melihat kondisi indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi pagi yang terpuruk sangat dalam hingga 10,38%, sehingga memaksa otoritas pasar modal menghentikan perdagangan untuk sementara (suspensi).
"Hal ini terjadi, karena pelaku asing banyak melepas sahamnya untuk ditukar dengan dolar AS guna mengurangi kerugian yang terus terjadi," katanya.
Namun lanjut Edwin, upaya BI mengurangi tekanan pasar terhadap rupiah untuk sementara cukup berhasil dan rupiah akhirnya kembali berada di posisi antara 9.550 sampai 9.600 per dolar AS. "Kami yakin BI akan tetap menjaga rupiah agar tidak terpuruk lebih jauh," ujarnya.
Sementara itu bank sentral AS, The Fed memberi sinyal akan menurunkan tingkat suku bunga bila krisis kredit sudah dalam skala yang membahayakan bagi perekonomian AS. Pasalnya, rencana bailout senilai US$ 700 miliar untuk mengatasi krisis kredit, dinilai tidak cukup mencegah penurunan ekonomi lebih dalam.
Investor berekspektasi suku bunga The Fed akan dipangkas 75 bps pada pertemuan FOMC 29-30 Oktober mendatang, dengan tingkat kemungkinan 40%. Hal ini mengingat indeks saham di bursa Wall Street jatuh ke level terendah sejak empat tahun lalu dan melejitnya bunga pinjaman antar bank hingga mencapai rekor.
Spekulasi penurunan suku bunga ini dapat melemahkan posisi dolar terhadap mata uang lainnya, terutama euro. Apalagi Pemerintah Jerman mengumumkan bahwa output sektor industri Agustus naik 3,4%, mengalahkan prediksi para ekonom yakni melemah 0,1%.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup melemah. Rupiah terhadap dolar Singapura merosot di 6.658,05, turun atas dolar Hong Kong menjadi 1.259,23, jatuh terhadap dolar Australia di 6.532,56 dan melemah atas euro pada posisi 13.367,31. [E1]