INILAH.COM, Jakarta - Ulah tukang goreng saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut mendorong anjloknya harga saham sehingga berujung penutupan perdagangan. Hal itu diperparah dengan kepanikan yang melanda investor. Spekulan pun meraup untung besar.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menengarai keputusan untuk menutup sementara perdagangan saham di BEI karena indikasi adanya spekulasi di lantai bursa. Wapres menjelaskan, saat ini ada upaya spekulatif yang menginginkan harga saham jatuh sehingga nilainya sangat rendah untuk diborong oleh pihak tertentu.
"Bursa ditutup (suspensi) karena ada pihak-pihak yang menggoreng saham supaya harganya jatuh untuk kemudian diborong dengan harga yang amat rendah," katanya di Jakarta, kemarin.
Sinyalemen yang sama juga diungkapkan Menkeu ad interim Sofyan Djalil. Menurutnya, tindakan spekulasi dan kepanikan sebagian investor, ternyata salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya pasar modal di Indonesia.
"Saya melihat selama ini pasar terlalu panik yang menyebabkan terjadinya spekulasi. Justru itu, yang menyebabkan harga saham semakin jatuh. Saya menghimbau, sebaiknya pasar tidak panik menghadapi situasi yang terjadi saat ini."
Indikasi terjadinya spekulasi sudah tercium bahkan otoritas BEI sudah melarang transaksi short selling yang ditengarai sebagai salah satu bentuk spekulasi perdagangan saham.
Dalam situasi pasar saham yang sedang tidak stabil, transaksi short selling yang sarat dengan tindakan spekulatif itu dinilai hanya memperburuk keadaan dan merugikan investor kecil.
Spekulan selalu memanfaatkan kondisi pasar saham yang sedang melemah (bearish) dengan melakukan transaksi short selling secara besar-besaran. Tindakan itu mengakibatkan harga saham-saham yang dijadikan target spekulasi menjadi anjlok sehingga bursa semakin terpuruk.
Short selling adalah transaksi saham namun sebenarnya tidak dimiliki investor, melainkan dipinjam dari orang lain (biasanya perusahaan sekuritas/broker). Aksi itu dibarengi dengan mengembuskan sentimen negatif agar harga saham yang menjadi target anjlok. Investor tersebut lalu membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah dan dikembalikan kepada broker.
Selama ini otoritas pasar modal di Tanah Air menjadi sasaran empuk para spekulan asing dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya yang juga berarti meninggalkan kerugian cukup mendalam bagi investor lokal, khususnya investor kecil.
BEI terkesan terlambat mengeluarkan aturan larangan short selling. Seharusnya sudah dari beberapa bulan lalu short selling dilarang sehingga aksi ini menggerogoti pasar modal sejak lama indeks terkoreksi cukup dalam.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meyakini anjloknya indeks saham BEI tidak akan berlangsung lama dan bisa segera diatasi. "Kita optimistis segera bisa diatasi karena kondisi ekonomi sekarang berbeda dengan masa krisis 1998," kata Yudhoyono sebagaimana dituturkan Juru Bicara Presiden Andi Malarangeng di Kantor Presiden Jakarta.
Menurut Andi, Presiden menyerahkan semua kebijakan mengenai bursa saham ini sepenuhnya kepada BEI. "Presiden akan terus memantau perkembangannya. Dan percaya pengelola bursa saham tahu apa yang dilakukannya," katanya.
Presiden lanjut Andi juga akan terus mengamati langkah-langkah yang dilakukan otoritas moneter dan fiskal negara-negara lain dalam menghadapi krisis ini dan akan terus mempersiapkan diri mengantisipasi perkembangan yang terjadi.
Sedangkan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo menilai, suspensi perdagangan saham atau menutup bursa saham bukanlah tindakan popular.
Hal ini berdampak pada citra atau persepsi terhadap bursa saham lokal yang akan negatif. Tindakan seperti itu, menurutnya, merupakan intervensi negara yang terlalu berlebihan, dan hanya akan menambah bobot panik dan gelisah di masyarakat.
Bambang sendiri menilai suspensi kasuistis tidak menjadi masalah dan merupakan suatu hal yang lazim, seperti yang dilakukan BEI terhadap enam emiten dalam kelompok Bakrie. "Koreksi harga saham di BEI merupakan konsekuensi logis dari keterbukaan pasar dan perekonomian kita," katanya.
Lagi pula, lanjut Bambang, harga saham dan posisi IHSG memang fluktuatif. Kalau sekarang adalah periode koreksi, biarkanlah koreksi itu berlangsung alamiah. "Kita hanya bisa mengimbau masyarakat, khususnya investor di pasar modal untuk tidak panik dan spekulatif," katanya. [E1]