inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Posisi Rupiah Masih Terancam

Headline
istimewa
Oleh: Asteria
Kamis, 9 Oktober 2008 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (9/10) masih berpotensi melemah. Aksi memburu dolar diprediksi masih terjadi. Selain likuiditas yang ketat, hal ini juga dipicu kebutuhan investor dalam menyelamatkan asetnya.
Analis valas Farial anwar mengatakan, rupiah hari ini masih akan tertekan akibat penguatan dolar. Hal ini dipicu aksi pelaku valas yang lebih tertarik memegang dolar demi menyelamatkan investasinya. "Rupiah hari ini akan bergerak di level 9.650-9.750 per dolar AS," katanya.
Menurutnya, aksi penyelamatan aset ini sudah tampak pada perdagangan kemarin ketika rupiah bergerak volatile dan cenderung liar hingga hampir mendekati level 9.800 per dolar AS.
Krisis likuiditas yang melanda seluruh dunia memicu investor mengalihkan kepemilikannya dari saham ke mata uang dolar AS. "Investor pun berame-rame menarik dananya dari pasar bursa secara besar-besar dan membeli dolar," ujar Farial.
Akibatnya, pasar Indonesia yang didominasi aliran dana panas atau hot money menjadi sasaran empuk untuk melakukan spekulasi. Farial pun meminta BI memberi batasan terhadap transaksi devisa asing.
Adapun sentimen dari kenaikan suku bunga BI rate serbesar 25 basis poin ke level 9,5% hanya berimbas sementara pada penguatan rupiah. Investor berekspektasi negatif karena menilai kebijakan itu tidak ada konkret.
Farial pun menyarankan agar BI melakukan langkah konkrit dengan melaksanakan komitmen menjaga stabilitas rupiah di pasar valas. "Pasalnya, rupiah saat ini sangat rentan terhadap ketidakpastian pasar keuangan global," tambahnya.
Semantara itu Dirut Finan Corpindo, Edwin Sinaga mengatakan, potensi penguatan rupiah masih ada, bahkan dapat mencapai level 9.500 per dolar AS.
Hal ini selain disebabkan berkurangnya kepanikan pasar, juga karena komitmen BI untuk menjaga rupiah di level aman. "BI terus menjaga agar rupiah berada dalam kisaran yang diinginkan yakni pada level 9.500 per dolar AS," ucapnya.
Menurutnya, pemerintah berusaha meyakinkan investor untuk tetap tenang, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di atas 6%, meski sedikit banyak terpengaruh krisis keuangan global. "Karena itu pemerintah melalui BI tetap akan menjaga stabilitas rupiah agar tetap berada pada koridor yang diinginkan," katanya.
Deputi Gurbenur Senior BI Miranda S Goeltom mengatakan, nilai tukar rupiah adalah salah satu instrumen yang penting untuk dipantau, karena mempunyai pengaruh terhadap inflasi.
Miranda pun meyakini, BI masih berada di pasar uang dan masih memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas. "BI akan tetap berada di pasar apabila dibutuhkan dan kami akan melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan pergerakan-pergerakan di dunia," imbuhnya.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami rupiah. Hal ini terlihat dari nilai tukar rupiah yang secara year to date rata-rata baru terdepresiasi 2%, sementara mata uang lainnya rata-rata terdepresiasi hingga 4%.
"Jadi pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global saat ini adalah lumrah, selama dia teratur dan tidak menimbulkan ketidakpastian baru. Jadi kita hindari volatilitas dan gejolak yang berlebihan sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian baru," jelas Miranda.
Lebih lanjut Miranda mengatakan bahwa Indonesia saat ini memiliki cadangan devisa hingga September mencapai US$ 57,108 miliar. Kendati turun US$ 1,2 miliar dari cadangan devisa per akhir Agustus sebesar US$ 58,356 miliar, jumlah ini tergolong aman karena masih di atas 4,5 bulan kali impor.
Penurunan tersebut dinilai masih wajar karena hampir semua bank sentral dunia juga mengalami penurunan cadangan devisa untuk mengguyur dana ke pasar. "Memang ada penurunan, tapi cadangan devisa kita masih dalam kisaran aman," ujarnya.
Di sisi lain, Bank Sentral AS The Fed telah memastikan akan memotong tingkat suku bunganya 50 basis poin menjadi 1,5% guna mengatasi krisis ekonomi AS. Menurut Gubernur The Fed, Ben Bernanke, kebijakan pemotongan tingkat suku bunga merupakan sebuah solusi paska kebijakan bailout sebesar US$ 700 miliar.
Hal ini dilakukan di tengah tren pemangkasan suku bunga bank sentral negara lain. Australia melalui bank sentralnya, RBA kemarin telah mengawali dengan memotong suku bunga sebesar 1% menjadi 6%.
Sementara rupiah Rabu (8/10) ditutup melemah 35 poin ke posisi 9.595 per dolar AS. Demikian juga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya. Rupiah terhadap dolar Singapura merosot di 6.658,05, turun atas dolar Hong Kong menjadi 1.259,23, jatuh terhadap dolar Australia di 6.532,56 dan melemah atas euro di 13.367,31. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.