inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Bursa Saham di Simpang Jalan

Headline
inilah.com/subekti
Oleh: Asteria & Ahmad Munjin
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:46 WIB
INILAH.COM, Jakarta Setelah perdagangan dihentikan, kondisi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/10) masih berada dalam ketidakpastian. Investor meraba-raba apakah pasar beroperasi kembali. Jika iya, masih ada saham berfundamental baik dan layak koleksi.
Pengamat Bursa Felix Shindunata mengatakan pasar bursa domestik selama dua hari perdagangan kemarin sangat kacau dan telah terpuruk mencapai 20%. Namun, belum diketahui pasti apa penyebabnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, kepastian tentang buka atau tidaknya pasar hari ini, akan sangat tergantung dari penjelasan yang diberikan otoritas BEI mengenai penyebab jatuhnya bursa.
Hal itu menjadi penting karena transaksi saham di pasar bursa berkaitan erat dengan keyakinan investor. "Jadi poinnya itu tetap penjelasan dari BEI mengapa dan apa penyebab indeks kita turun sampai melebihi 20% dalam dua hari," ujarnya.
Felix memaparkan, indikator yang digunakan BEI untuk menentukan apakah pasar akan buka atau tidak hari ini adalah sentimen pasar. Pasalnya, ada penurunan 20% dalam dua hari terakhir tidak ada penjelasan secara logika yang sehat.
IHSG pada perdagangan Selasa (8/10) sesi pertama terpantau anjlok 10,38% ke level 1.451,669, posisi terendah sejak September 2006 lalu. Otoritas bursa pun terpaksa menghentikan perdagangan pukul 11.08 WIB untuk mencegah keterpurukan lebih dalam. Hingga bursa ditutup, tercatat 6 saham naik, 171 saham anjlok, dan 9 saham stagnan.
Menurutnya, ada dua kemungkinan anjloknya bursa. Pertama adalah yang berasal dari sentimen eksternal seperti krisis finansial dan pelambatan ekonomi global. Sedangkan kemungkinan lain adalah merembetnya kasus gagal bayar yang dialami PT Danatama.
"Kalau memang sentimen eksternal, pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, masalah bursa ini kan complicated. Saya sendiri tidak tahu penurunan dalam dua hari apakah karena faktor sentimen eksternal pasar, ataukah masalah domestik," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, kalau penyebab kejatuhan IHSG berasal dari faktor domestik, maka masih harus ada penjelasan dari otoritas bursa, termasuk kemungkinan terimbas kasus gagal bayar PT Danatama. "Mungkin investor yang memiliki korelasi ke gadai saham itu menjual portofolio-portofolio di blue chip seperti Astra, dan lain-lain," katanya.
Sedangkan kalau dari faktor eksternal, ini berarti, bila bursa AS mencerminkan pergerakan yang cukup signifikan, akan ada peluang indeks rebound hari ini. Pasalnya, The Fed baru saja menurunkan suku bunga acuannya 50 basis poin menjadi 1,5%.
Hal itu akan membawa angin segar ke pasar Asia. Apalagi , Bank Sentral Eropa juga menurunkan suku bunga mereka sampai 1,5%. "Ini seharusnya berdampak positif. Tetapi ini hanya suatu emergency policy, kebijakan darurat mengingat semua bursa Asia juga jatuh," ujarnya.
Sementara mengenai kerugian yang diakibatkan suspensi BEI, Felix mengatakan, yang paling dirugikan adalah investor murni (pure investror). Pasalnya, secara fundamental sebenarnya ekonomi Indonesia masih dalam tahap positif. Sehingga tidak ada alasan dari sisi ekonomi domestik yang menyebabkan bursa turun 10%.
Ia pun menyarankan ketegasan dari otoritas bursa untuk mengatur aksi spekulan, yaitu investor yang melakukan short selling. "Memang seharusnya ada ketegasan untuk mengatur mereka. Kalau tidak, percuma, ketika bursa dibuka nanti dimainkan kembali," imbuhnya.
Felix juga memaparkan, bila otoritas bursa akhirnya memutuskan mencabut suspensi terhadap pasar saham, ia menyarankan investor untuk mencermati dulu kondisi pasar, sebelum masuk dalam perdagangan.
Namun, lanjutnya, untuk tipe investor yang konservatif dan berani memegang saham dalam waktu cukup lama, yaitu lebih dari satu tahun, Felix menyarankan untuk langsung masuk. Pasalnya, harga saham sekarang sudah sangat murah. "Harga saham sekarang itu sudah nggak masuk akal. Sudah terlalu murah," ujarnya.
Menurutnya, dalam satu tahun, saham diprediksikan sudah kembali rebound. Sehingga, masa sulit seperti ini bisa dijadikan peluang bagi investor untuk mengkoleksi saham unggulan.
Sementara analis Sarijaya Securities Muhammad Alfatih menyarankan investor untuk melakukan investasi di pasar modal dalam jangka panjang satu atau dua tahun mendatang. Sehingga bisa terhindar dari masalah dan meminimalisir risiko.
"Tinggal dipilih saham-saham yang baik, yang cashflow-nya bagus, yang jualannya tidak terpengaruh krisis AS. Untuk saham-saham tersebut bisa dilakukan pembelian," paparnya.
Salah seorang pialang lokal senior memberikan tipsnya bagi investor pasar modal. Menurutnya, yang harus dilakukan saat ini adalah lebih selektif memilih saham. "Jangan panik. Masih ada emiten-emiten yang tidak terpengaruh kondisi saat ini. Saham yang fundamentalnya bagus dan solid sebenarnya masih bisa dikoleksi," paparnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.