INILAH.COM, Jakarta Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih memprioritaskan menonton film Laskar Pelangi dibandingkan menghadiri rapat kabinet terbatas, dinilai semakin menunjukkan rendahnya sense of crisis pada hal-hal yang bersifat penting.
"Sense of crisis SBY memang rendah. Banyak hal penting diputuskannya dengan ragu-ragu," kata pengamat komunikasi politik Universitas Al-Azhar Indonesia Muhammad Iqbal kepada INILAH.COM, Rabu (8/10) malam.
Menurut Iqbal, seringkali SBY lebih mementingkan hal-hal yang bersifat tersier untuk hal-hal yang sifatnya bukan hanya sekunder, tapi juga primer.
Hal ini kembali terlihat saat SBY baru menggelar rapat kabinet terbatas pada pukul 22.00 WIB, setelah menonton film Laskar Pelangi, di Auditorium I Blitz Megaplex, Jakarta, pada Rabu (8/10), pukul 19.00 WIB. "Saya kira SBY punya pengalaman lain. Oleh karena itu, SBY harus banyak diingatkan," ujarnya.
Sebagai seorang manusia yang juga membutuhkan hiburan, lanjut Iqbal, memang tidak ada salahnya SBY menonton film. Namun SBY perlu diingatkan oleh semua elemen, bahwa krisis ekonomi tidak mengenal waktu. "Hal ini juga cermin sebuah kepemimpinan yang tidak memiliki ketahanan ekonomi makro," tambah Iqbal.
Iqbal juga berharap, setelah menonton Laskar Pelangi, SBY dapat melakukan lebih banyak dari apa yang telah diterimanya. "SBY harus melek terhadap krisis pendidikan. Apalagi realisasi anggaran pendidikan yang seharusnya sebesar 20% masih belum terlaksana," tegas kandidat doktor Universitas Indonesia ini.
Seperti diketahui, pada Rabu pukul 22.00 WIB, digelar ratas membahas penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) di Bursa Efek Indonesia, di Kantor Kepresidenan. Namun, ratas harus menunggu SBY yang masih menonton film bersama sejumlah menteri yang juga ikut hadir di acara itu, seperti Mensesneg Hatta Rajasa. [R2]