INILAH.COM, Jakarta - Di saat negara dalam keadaan genting karena ancaman krisis ekonomi, Presiden SBY malah lebih mendahulukan nonton di bioskop. Rapat kabinet terbatas harus menunggu SBY selesai nonton dulu. SBY pun dinilai sungguh terlalu!
"Sungguh keterlaluan dan menyedihkan melihat langkah Presiden SBY yang lebih mementingkan nonton bioskop dibandingkan menggelar rapat kerja di saat situasi negara yang sedang genting," cetus anggota Komisi I DPR asal FPDIP Permadi kepada INILAH.COM, Kamis (9/10).
SBY nonton film 'Laskar Pelangi' di Auditorium I Blitz Megaplex, Jakarta, pada Rabu 8 Oktober 2008. Rapat kabinet terbatas baru digelar pukul 22.00 WIB menunggu SBY usai nonton. Padahal rapat ini genting untuk membahas penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) di Bursa Efek Indonesia.
Keadaan Indonesia, menurut Permadi, jelas akan lebih terpuruk lagi jika pemimpinnya tidak mempunyai sense of crisis. Ketidakmampuan pemerintah menangani ancaman krisis ekonomi sudah tampak dari rapat-rapat kerja yang digelar SBY maupun Menko Perekonomian Sri Mulyani.
"Seharusnya rapat yang dipimpin Pak SBY itu berbentuk action, bukan sepuluh arahan yang isinya normatif semua, yang isinya kerjasama ditingkatkanlah, bupati harus perhatikan rakyatlah. Itu apa? Mendingan action. Tangkap itu obligor BLBI atau apalah," ujar Permadi.
Saat digelar rapat kerja oleh Sri Mulyani, lanjut dia, diketahui para menteri terkesan tidak serius menanggapi ancaman krisis ekonomi yang saat ini sedang terjadi.
"Kalau yang rapat bersama Menko Perekonomian itu kan menteri-menterinya cengengesan semua. Ini sangat keterlaluan. Prihatin saya," ketus Permadi.
Ketidaktegasan pemerintah menjaga martabat bangsa, menurut dia, diperkirakan akan membawa dampak Indonesia tidak akan dihargai di mata dunia.
"Kemarin saja baru ditandatangani ASEAN charter, tapi TKI digebukin diam saja. BLBI nggak diurus, diam saja. Saya pastikan Indonesia nggak akan maju kalau pemimpinnya memble kayak gini," tandas Permadi.[L3]