INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis pagi (9/10), merosot menembus Rp 9.600 per dolar AS.
Kondisi itu dipicu oleh aksi pelaku pasar yang masih memburu dolar AS, karena khawatir dengan krisis keuangan yang masih menekan pasar.
"Pelaku pasar masih memburu dolar AS, mereka khawatir krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa akan menimbulkan dampak negatif lebih besar lagi," kata Direktur Finan Corpindo, Edwin Sinaga di Jakarta, Kamis (9/10).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun menjadi Rp 9.625/9.630 per dolar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.593/9.605 atau melemah 32 poin.
Menurut Edwin Sinaga, pelaku pasar belum melihat ada peluang untuk melepas dolar AS yang telah mengalami kenaikan cukup tinggi, mereka tetap membeli dolar AS ketimbang melepasnya untuk meraih keuntungan.
Berlanjutnya aksi beli dolar AS itu dikhawatirkan posisi rupiah akan mencapai angka Rp10.000 per dolar AS, apalagi pemerintah tidak melakukan kebijakan yang lebih kongkrit dalam mengatasi masalah krisis keuangan dunia, katanya.
Pelaku pasar, lanjut dia, masih menunggu dan melihat apa yang akan dilakukan pemerintah lebih lanjut, setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 9,5%.
Apabila pemerintah tidak mengeluarkan resep atau obat yang baru maka sepanjang itu pula masyarakat akan terus membeli dolar AS yang akan menekan rupiah terpuruk hingga di level Rp 10.000 per dolar AS, katanya.
Rupiah yang jatuh hingga mencapai Rp 10.000 dolar AS, menurut dia, akan menimbulkan kekhawatiran, karena itu menunjukkan ekonomi Indonesia berjalan tidak sebagaimana yang diharapkan.
Presiden sendiri meminta semua institusi terkait siap menghadapi gejolak keuangan global itu dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi tumbuh di atas 6%.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !