INILAH.COM, Jakarta - Tutupnya Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dimulai Rabu (8/10) dan berlanjut hingga Kamis (9/10) ini tak luput sebagai imbas kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak fokus.
Dalam pandangan Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit, ambruknya kinerja bursa saham ini tidak terlepas dari Presiden SBY yang mengesankan kerap mengobral pernyataan dalam menyikapi kondisi ekonomi global.
"SBY jangan terlalu banyak bicara, nanti malah bikin sentimen negatif," ujar Sukardi kepada INILAH.COM, Kamis (9/10) di Jakarta, menanggapi tak ada adanya langkah pasti dari pemerintah untuk menyelamatkan bursa saham domestik yang tertekan kondisi global.
Ketika INILAH.COM menyebutkan bahwa pernyataan SBY itu sebenarnya merupakan representasi pemimpin yang tanggap darurat, Sukardi sepakat namun ia tidak melihat ada langkah nyata dari pernyataannya itu.
"Betul, tapi untuk membangkitkan optimisme publik bukan dengan pernyataan-pernyataan," ujarnya.
Menurut dia, langkah seperti ini menjadi ciri khas SBY yang berusaha langsung mengarahkan kebijakan, tetapi sebenarnya langkah itu tidak fokus.
"Dia sudah jenderal, presiden, eh malah bikin puisi dan mencipta lagu. Kira-kira seperti itu cara SBY memimpin, tidak fokus," tandas Sukardi.
Penilaian Sukardi itu juga terbukti ketika Presiden SBY lebih mementingkan menonton film Laskar Pelangi dan meminta para menterinya menunggu hingga menjelang tengah malam untuk menggelar rapat terbatas membahas masalah kejatuhan bursa dan ekonomi Indonesia.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !