INILAH.COM, Jakarta Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat tembus di level 9.900 pada awal perdagangan mengantarkan pada titik psikologis 10.000 per dolar AS. Perlu kerja keras penjaga moneter agar rupiah tak bisa menembus level itu.
Pasalnya, menurut pengamat pasar uang Edwin Sinaga, jika sudah menembus batas psikologis yang terjadi bukanlah fundamental issue melainkan panic issue.
"Problemnya terlalu pelik. Saya tidak bisa memastikan sampai kapan tren semacam ini akan terus berlangsung. Kita tunggu saja obat dari pemerintah dan otoritas moneter," tandas Edwin, ketika dihubungi INILAH.COM, Kamis (9/10).
Faktor yang menyebabkan rupiah melemah tajam, lanjut Edwin bukanlah fundamental ekonomi. "Tidak ada masalah dengan fundamental ekonomi. Fundamental ekonomi masih cukup baik," tandas Dirut PT Finan Corpindo itu.
Pelemahan nilai tukar lebih diakibatkan faktor eksternal yakni keadaan ekonomi global. Selain itu diperparah oleh faktor kepanikan dari investor. Meski begitu, Edwin tidak menampik adanya faktor spekulan yang seringkali mengatasnamakan investor yang panik.
"Melebur menjadi satu," timpalnya. Dalam perdagangan, sudah pasti investor tidak akan mengatasnamakan dirinya sebagai spekulan. Mereka pasti mengidentifikasikan dirinya sebagai orang panik. Namun Edwin meyakini BI masih akan terus berada di pasar untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu Gubernur BI Boediono sejak awal pekan ini sudah menegaskan kesiapannya untuk tetap berada di pasar agar tidak terus melemah. "Kita tetap di pasar. Itu saja," katanya. Menurutnya pelemahan nilai tukar atas dolar AS juga dialami mata uang negara lain.
Tekanan pasar yang cukup kuat masih menekan rupiah, sekalipun BI telah menaikkan BI rate dan melepas cadangan dolarnya ke pasar. Pelaku pasar panik melihat kondisi indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terpuruk sangat dalam hingga 10,38% sehingga memaksa otoritas pasar modal menutup perdagangan sementara.
Analis HD Capital James Bryson menilai dolar yang sempat menguat tajam hari ini terdorong aksi investor yang kembali mengalihkan dananya ke mata uang AS itu. Apalagi melihat Eropa sedang mengalami gejolak finansial sehingga investor mengurangi posisinya di high yield market dan high yield currency dan kembali ke dolar. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !