Selasa, 29 Mei 2012 | 04:15 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Felix Sindhunata
Bursa Masih Tanda Tanya Besar
Oleh: Ahmad Munjin
web - Jumat, 10 Oktober 2008 | 03:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Akhirnya pasar bursa dibuka lagi setelah sempat disuspensi selama dua hari. Namun, investor masih harus mencermati pergerakan bursa global dan regional serta kebijakan yang dilakukan terhadap saham grup Bakrie. Market pun masih sulit diprediksi.

Hal itu diungkapkan pengamat bursa Felix Sindhunata kepada INILAH.COM . Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempunyai peluang menguat, terimbas sentimen positif bursa regional yang membaik paska pemangkasan suku bunga beberapa bank sentral.
Namun, indeks saham juga berpotensi melemah karena sentimen negatif, bukan hanya dari grup Bakrie, tapi juga dari kondisi ekonomi AS.
"Kita harus melihat Amerika dan tergantung bagaimana rasionalitas investor. Kalau investornya masih orang yang panik, ya bursa masih tertekan. Jawaban sebenarnya bursa besok masih tanda tanya besar. Potensi naik dan turunnya, fifty-fifty," ujarnya.

Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.

Apa tanggapan Anda, BEI dibuka kembali besok?
Saya bilang, peluang menguat masih ada, tapi tetap harus waspada. Pasalnya, market ini bukan market yang enak. Artinya, masih sulit diprediksi. Kita mesti melihat, kalau saat ini bursa Asia menguat dan bagaimana masalah Bakrie Group. Poinnya, investor harus melihat perkembangan di Amerika, kemudian terus mencermati.
Masih ada peluang turun kalau kita melihat penutupan kemarin. Tapi, kita harus melihat apakah rasionalitas investor itu ada atau tidak untuk saat ini. Ini yang sulit, karena sangat tergantung pada itikad dan keyakinan investor.

Kalau ternyata Amerika hancur-hancuran lagi, ditambah sentimen dari pagi, wah, saya nggak tahu. Bisa-bisa seperti di Rusia, setelah dibuka satu setengah jam ternyata turunnya 19%. Lantas disuspensi lagi. Mudah-mudahan di sini tidak begitu.
Artinya investor memang harus ekstra hati-hati. Tapi memang ada anjuran untuk buy back saham BUMN dari SBY. Tapi investor harus melihat seberapa kuat saham-saham itu menopang pasar di tengah-tengah orang panik.
Yang kita harapkan sebenarnya adalah rasionalitas investor. Bahwa, fundamental emiten maupun ekonomi sebenarnya tidak ada apa-apa. Cuma, ada sentimen dari Group Bakrie yang sulit kita duga.

Seberapa besar pengaruh pemangkasan suku bunga beberapa bank Sentral?
Kalau kita lihat, Asia hari ini (kemarin) memang relatif cukup membaik. Artinya tidak ada penjualan yang luar biasa. Memang masih ada beberapa bursa yang melemah, seperti Australia, tapi beberapa bursa menunjukkan perbaikan.
Memang mereka hanya merespon pemangkasan suku bunga kemarin. Tetapi, kondisi finansial Amerika sendiri tidak begitu kuat. Artinya orang masih ragu. Sehingga terlalu dini kalau kita bicara market akan segera pulih dengan keadaan semua ini. Masih butuh cerita panjang.

Apa ada imbas tertentu terhadap IHSG, mengingat suspensi dibuka di akhir pekan?
Sangat mungkin. Padahal saya sempat berharap suspensi itu dibuka hari Senin. Pasalnya, pada hari Jumat, orang biasanya cuci gudang. Ada sindrom yang mengakibatkan indeks cenderung melemah. Apalagi dalam kondisi seperti ini, apakah investor rasional atau tidak. Poinnya ke situ.
Kalau investornya rasional, saya pikir nggak terlalu jadi masalah. Artinya dampak positif dari penurunan suku bunga global masih bisa diikuti oleh kita. Tapi kalau kalau investor tidak rasional, saya tidak tahu.

Dengan dibukanya pasar bursa, apakah menunjukkan adanya stabilitas?
Bukan berarti sudah stabil, ya. Tapi memang suspensi bursa itu juga salah. Di satu sisi, hal itu harus dilakukan, kalau memang pergerakannya memang tidak wajar. Dan saya setuju dengan suspensi kemarin. Kalau tidak, kita bisa minus. Apalagi, kalau kemarin BUMI dan grupnya Bakrie dibuka, bisa minus 200 lebih. Sudah tidak masuk akal.
Ketika besok dibuka, kita harus melihat Amerika dan tergantung bagaimana rasionalitas investor. Kalau investornya masih orang yang panik, bursa masih tertekan. Jawaban sebenarnya bursa besok masih tanda tanya besar. Potensi naik dan turunnya, fifty-fifty.
Tinggal bagaimana rasionalitas investor. Jadi, untuk jangka pendek investor harus ekstra hati-hati, tapi kalau untuk jangka panjang harus beli, kapan lagi ada harga murah. (E2)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.