INILAH.COM, Jakarta Wakil Presiden Jusuf Kalla akan membatalkan pertemuan dengan para mantan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedianya akan digelar Sabtu (11/10) di Banda Aceh. Ia mengaku tersinggung dengan surat yang dikirimkan kepadanya.
Ketersinggungan Kalla itu bermula saat ia menerima surat undangan dengan tanda tangan mantan pimpinan tertinggi GAM Hasan Di Tiro yang dibuat oleh mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud.
"Surat itu menggunakan kop dengan lambang GAM. Jelas ini merupakan pelanggaran perjanjian damai Helsinki," ucapnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (9/10) malam.
Mantan pimpinan GAM itu, menurut Kalla merusak suasana kondusif yang telah terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam. Padahal, suasana damai itu telah terjalin sejak ditandatanganinya perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu.
Surat itu, lanjut Kalla, sebenarnya telah direvisi oleh Malik Mahmud. Ia kemudian mengirimkan kembali surat serupa tanpa kop berlambang GAM.
"Kami tetap memutuskan membatalkan pertemuan, karena melihat tidak ada keseriusan dan etika yang ditunjukkan mantan pimpinan GAM atas perjanjian damai Helsinki," tegasnya.
Hasan Tiro dijadwalkan akan berada di Aceh selama dua pekan. Ia juga dijadwalkan akan memberikan pidato di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Partai Aceh yang dibentuk mantan anggota GAM akan membantu prosesi kepulangan Hassan. Sementara Komite Peralihan Aceh (KPA) bertindak selaku koordinator. [R2]