INILAH.COM, Jakarta - Setelah mengalami suspensi sejak Rabu (8/10), Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/10) ini kembali membuka perdagangan. Sentimen negatif tetap menghantui. Investor pun diperkirakan akan keluar pasar dengan melakukan aksi jual.
Analis Mandiri Securities, Ari Pitoyo mengatakan, pada perdagangan akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan diwarnai sentimen negatif dari aksi redemption reksadana.
Selain itu, kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan BI 25 basis poin menjadi 9,5%, di tengah pemangkasan suku bunga negara-negara lain, memberi sentimen yang memberatkan IHSG untuk bergerak naik. "Hal ini menumpulkan insentif positif ke pasar," ujar Ari, di Jakarta, semalam.
Menurut Ari, kondisi pasar dalam negeri sebenarnya tidak terlalu buruk. Tak ada penjualan besar-besaran yang dilakukan investor. Ia menuturkan bahwa pasar anjlok pada awal pekan akibat panik karena bursa Wall Street anjlok, sementara BI justru menaikkan suku bunga acuannya.
Alhasil, kepercayaan pasar pun ambruk sehingga terjadi panic selling. Kepanikan juga dipicu aksi fund manager asing, yang karena terdesak likuiditas, terpaksa harus menjual portofolio sahamnya di Indonesia. "Force selling masih akan terjadi, sehingga akan menekan bursa saham Indonesia," tandasnya.
Sentimen negatif lain datang dari investor yang hari ini akan mengantisipasi kejatuhan bursa lebih dalam dengan melakukan aksi keluar pasar. Aksi ini terutama terjadi pada investor reksadana yang sejak suspensi diberlakukan, belum bisa melakukan redemption, terutama pada saham BUMI.
Namun, lanjutnya, bila suspensi saham BUMI masih berlanjut, investor masih akan melakukan penjualan saham lain pada portofolio reksadananya. "Ini dilakukan untuk mengurangi kerugian portofolio," tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI ) Abiprayadi Riyanto mengatakan, kalau pasar dibuka, investor tidak perlu melakukan redemption reksadana. Menurutnya, justru saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembelian saham.
Pasalnya, lanjut Abi, setelah sempat menyentuh level 1.800, IHSG sudah anjlok hingga level 1.400. Ini berarti diskonnya sudah cukup besar. Sehingga kalau indeksnya naik lagi, investor akan mendapatkan keuntungan berlipat. "Jadi sebaiknya jangan melakukan redemption," jelasnya.
Menurut Abi, kepanikan belum terjadi di pasar reksadana karena permasalahan hanya ada di pasar bursa, terkait anjloknya harga saham. Sedangkan porsi reksadana saham saat ini hanya Rp 30-40 triliun dari total dana kelolaan sebesar Rp 400 triliun.
Sebelum pasar dihentikan, tuturnya, banyak investor yang melakukan subsripction reksadana. "Namun, karena akhirnya pasar disuspend, pembelian itu tidak bisa dieksekusi dan terpaksa batal," katanya.
Abi hanya mengkhawatirkan adanya pemburukan dari pasar reksadana, terutama untuk reksadana fixed income, yang mendominasi dana kelolaan. Abi memprediksi, akan ada penjualan reksadana cukup besar hari ini.
Pasalnya, kenaikan suku bunga BI rate menyebabkan harga obligasi anjlok. Alhasil, para pelaku pasar akan beramai-ramai melakukan swicthing alias pengalihan ke deposito. "Reksadana fixed income akan mengalami penurunan NAB (nilai aktiva bersih), dan dikhawatirkan penjualan ini akan mempengaruhi industri pasar modal," ujarnya.
Ia pun melanjutkan, pemerintah kemungkinan untuk sementara tidak akan menerapkan mark to market untuk penentuan harga obligasi. Hal ini mengingat, saat harga obligasi terpuruk, akan menjatuhkan NAB reksadana fixed income. "Ada kemungkinan sistem akan dilonggarkan, tapi belum pasti seperti apa,"
Menurut Abi, saat ini kondisi pasar modal Indonesia masih relatif aman. Karena penurunan harga saham belum menyebabkan adanya panik jual. Kendati harus mewaspadai risiko penjualan dari reksadana fixed income.
Ari Pitoyo kembali menambahkan, pasar bursa dunia kemarin sudah kembali pulih, terlihat dari pergerakan bursa Eropa dan Asia yang relatif bagus. Hal itu diharapkan dapat menjadi buffer bagi pelemahan IHSG lebih lanjut. Bursa dunia kembali bergairah akibat sentimen pemangkasan suku bunga beberapa bank sentral secara serentak.
Saat ini, lanjutnya, yang dibutuhkan investor adalah kepastian aksi pemerintah untuk menjaga keyakinan pasar, bukan lagi solusi moneter. Harus ada intervensi yang lebih riil. Ia pun memberi contoh permintaan pemerintah agar perusahaan melakukan buyback saham, tidak hanya BUMN, tapi juga perusahaan lain. [E1]