"Jangan pernah merasa nyaman dengan pendapat otoritas keuangan". Ya, kalimat itu saya rasa tepat untuk situasi saat ini, menurut beberapa otoritas keuangan, saat ini fundamental perekonomian kita masih baik, tapi angka yang ada di layar komputer tidak pernah bohong karena merefleksikan apa yang terjadi saat ini di pasar yang ditentukan oleh perbadingan antara kekuatan penawaran dan pembelian. Rupiah yang terus melorot bukanlah suatu indikator perekonomian yang baik.
Ada pihak yang mencoba berpikir positif dengan mengatakan Rupiah sengaja dibiarkan melemah agar ekspor meningkat, pertanyaanya apa iya? BI menaikkan suku bunga dengan tujuan menjaga Rupiah, sementara ekspor kita banyak tertuju pada Amerika dan Eropa yang sedang resesi sehingga daya belinya berkurang, jadi apa alasan logis mengatakan rupiah sengaja dibiarkan melemah untuk kebaikan?
Kesimpulannya sektor riil sudah mulai terkena dampak resesi dan semakin menguatkan sinyal menuju resesi seperti 1998, kecuali keadaan makroekonomi kita tidak semakin memburuk hingga melewati tahun kritis 2008 ini (meskipun menurut saya pribadi tampaknya hal ini sulit terjadi).
Bila otoritas keuangan meniru 'duet Ratu' dengan mengatakan "baik-baik saja,"
menurut saya, kasarnya memang kata-kata itu sudah ada pada job description beliau-beliau. Saya juga mengerti kesulitan mereka dengan ilustrasi seperti ini, bila kita sebagai penumpang pesawat udara mengalami gangguan cuaca, para pramugari akan mengatakan pada kita bahwa semua akan baik-baik saja padahal mungkin mereka sendiri merasa cemas di dalam hati.
Yang harus kita lakukan saat ini adalah sayangilah diri kita sendiri dengan
meningkatkan kewaspadaan dan jangan begitu mudah ditenangkan hanya oleh kata-kata karena perbuatan kongkretlah yang bisa menyelamatkan kita dari krisis.
Blunder pun dilakukan pada Jumat ini bursa kembali dibuka, di tengah berondongan regional seperti Jepang yang turun di kisaran 9% tampaknya bukan tidak mungkin IHSG bisa turun 18%, dengan anggapan system JATS akan terhenti seperti 2 hari yang lalu maka mungkin IHSG kembali akan turun 10% dan disuspend lagi.
Nah, mengapa saya katakan blunder? Tampaknya otoritas bursa terlalu pede dengan kenaikan regional kemarin di Asia, yang tidak diperhitungkan adalah kenaikan pada Kamis (9/10) hanya karena secara kolektif beberapa bank sentral menurunkan suku bunga yang artinya kenaikan di regional itu hanyalah sebuah technical rebound, ada baiknya bila kemarin otoritas bursa menunggu hingga Dow tutup dulu sehingga bisa memprediksikan dengan kepala dingin apa yang sebaiknya diputuskan untuk kepentingan terbesar di bursa, kepentingan investor.
Apalagi secara tradisional, hari Jumat terutama di sesi 2 diwarnai dengan aksi jual oleh investor dan isu redemption reksa dana turut memberikan sentiment negatif hari ini.
Saya juga menyarankan bagi anda yang memiliki saham sebuah grup yang bergerak di bidang perbankan, asuransi dan sekuritas yang listing di BEI saat ini untuk melepas saham-saham grup tersebut, saya sama sekali tidak berkepentingan dan tidak mempunyai masalah dengan grup ini tapi menurut logika saya grup ini memiliki tingkat resiko sangat tinggi dalam hal menghadapi turbulensi sektor keuangan saat ini.
Ketiga bidang usaha grup ini sangat rawan karena saling berkaitan dan kehancurannya akan diakhiri apabila terjadi rush dan bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas.
Pasar modal sendiri saat ini tampaknya masih menjadi anak tiri di bidang keuangan negara tercinta ini, dimulai dengan gelombang kenaikan suku bunga yang dilakukan BI dari beberapa bulan lalu hingga wacana menaikkan nominal jaminan deposito di perbankan yang semuanya semakin membuat investor memilih untuk menghindari sekuritas dan mengalihkan dananya ke perbankan.
Wacana internasional yang mengatakan bahwa Warren Buffett akan dinominasikan menjadi menteri keuangan AS berikutnya juga harus disikapi dengan kritis, bila ternyata Buffett menolak, maka pasar akan menilai bahwa bahkan seorang sesepuh pasar keuangan pun ragu bisa menyelamatkan bidang keahliannya sendiri.
Untuk saat ini selain emas dan ORI, tampaknya currency seperti mata uang Brazil, Russia dan China menurut saya masih bisa menjadi pilihan sambil menunggu entry point terbaik untuk masuk kembali ke saham.
Dengan BI yang menaikkan suku bunganya sendiri, dunia juga bisa menilai bahwa BI tidak 'setia kawan' dalam usaha global memerangi krisis keuangan dan mencari kesempatan di dalam kesempitan, mungkin BI untuk jangka pendek bisa berhasil menarik hot money tapi untuk jangka panjang bila Indonesia sampai mengalami kesulitan, dunia tidak ada yang mau membantu dan kita seperti masa lalu hanya bisa mengharapkan kembali belas kasihan dari IMF yang tentu akan datang dengan jumawa dan segudang tuntutan plus persyaratan hingga pengaturan.
Irwan Buniardi, irwan.buniardi@megaci.com