INILAH.COM, Banda Aceh - Kehadiran mantan pemimpin tertinggi GAM, Hasan Tiro, di Banda Aceh, pada 11 Oktober 2008, menarik perhatian banyak penduduk Aceh dan sekitarnya. Mereka sudah mulai berdatangan ke Kota Banda Aceh.
Masyarakat dari pesisir Timur provinsi itu tiba di Kota Banda Aceh sejak Kamis (9/10) malam dengan menumpang mobil bak terbuka, bus serta kendaraan pribadi. Hingga Jumat 10 Oktober 2008, masyarakat dari berbagai kabupaten seperti Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur terus mengalir ke ibukota provinsi NAD ini untuk menyambut kedatangan Hasan Tiro.
Selain kendaraan roda empat, masyarakat yang sebagian besar remaja dan anak-anak itu datang ke Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor secara berkelompok.
"Kami datang ke Banda Aceh dengan biaya sendiri hanya ingin melihat langsung 'Wali Nanggroe' (Hasan Tiro)," kata M Fakri, warga asal Aceh Utara.
Hasan Tiro yang telah menjadi Warga Negara Asing (WNA) Swedia itu diperkirakan akan berada di NAD selama dua pekan mulai 11 Oktober 2008.
"Diperkirakan dua pekan Hasan Tiro di Aceh. Sebagian besar waktunya akan dihabiskan di tempat kelahirannya di Kabupaten Pidie," kata juru bicara Partai Aceh Adnan Beuransyah.
Sebagian besar kendaraan yang digunakan massa dari berbagai daerah itu dihiasi dengan lambang Partai Aceh yang merupakan salah satu partai politik lokal. Partai politik bentukan mantan GAM tersebut membantu proses kepulangan Hasan Tiro ke Aceh sedangkan Komite Peralihan Aceh (KPA) adalah koordinator sehingga semua anggota PA dan KPA dilibatkan untuk menyukseskan agenda tersebut.
Setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh Besar dan mengikuti upacara peuseujuk (tepungtawar), Hasan Tiro akan menuju Meuligo (kediaman Gubernur Aceh) dan dijadualkan bersilaturrahmi dengan masyarakat Aceh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
"Kemungkinan Hasan Tiro juga akan memberikan pidato singkat di Masjid Raya tapi tidak ada tatap muka khusus dengan masyarakat Aceh," tambahnya.[*/L8]