MARIKINA - Hari pemilihan umum. Jalanan di kota yang rentan terhadap banjir ini sedang panas. Wilayah industri di pinggiran Kota Manila itu sedang sepi.
Rumah-rumah di Marikina terlihat sederhana dan padat. Seorang perempuan tua, dengan rambut yang agak terlihat pirang, sedang duduk di depan rumahnya, ia mengipasi diri sendiri dan tersenyum ketika saya berlalu di depannya.
Tempat pemungutan suara di Malanday High School sebaliknya, terlihat padat. Ribuan penduduk lokal sedang mengantre dengan sabar untuk memberikan suaranya. Di luar halaman sekolah, penjaja makanan keliling, becak, dan agen kampanye sedang berebut perhatian.
Gedung sekolah itu setinggi empat lantai. Penduduk yang akan memberikan suaranya memenuhi tiga lantai. Sistem komputer yang baru diperkenalkan memang agak memperlambat proses pengambilan suara. Namun khalayak tak gentar. Ini event lingkungan, banyak yang membawa serta anaknya. Mood pun menular, hampir mirip pesta.
Tukang sapu sudah mulai bekerja, membersihkan sampah. Saya membungkuk. Ada brosur promosi berbagai kandidat. Kebanyakan terdiri dari walikota, anggota dewan daerah, kongres, gubernur, senator, hingga presiden, dan wakil presiden.
Sebenarnya, ada 18.000 kandidat yang telah mendaftar untuk pemilu, dari Laoag di utara ke Davao dan General Santos di selatan. Demokrasi terbesar kedua di ASEAN setelah Indonesia dengan 50,7 juta pemilih ini sedang menjalani pesta demokrasi terbesar itu.
Beberapa orang yang saya ajak bicara, mengungkapkan keinginan mereka memilih pemenangnya, Benigno Noynoy Aquino. Janji antikorupsinya menggema dengan baik di kalangan masyarakat pekerja. Namun begitu, juga ada pendukung mantan Presiden Joseph Ejercito Estrada meski tak banyak. Jelas terlihat, masa kejayaannya telah berlalu.
Dalam pemilu kali ini dan persaingan membara antara Aquino, Estrada, dan miliuner pemilik developer properti Manuel Villar, telah menggema ke seluruh penjuru negara.
Filipina telah menjadi hantu ASEAN, negara yang hampir terlupakan. Tetap saja, pemilu merupakan milestone penting untuk Filipina. Sekitar 24 tahun setelah Peoples Power pada 1986, yang merupakan pertanda jatuhnya diktator Ferdinand Marcos dan kebangkitan ibu Noynoy, Corazon Aquino, negara ini masih saja berjuang dengan ketimpangan demokrasi.
Mampukah sang juara, Noynoy, membersihkan noda-noda kegagalan itu? Sanggupkah Filipina mengembalikan kemashyuran pada 1950-1960 lalu ketika menjadi negara terkaya di Asia tenggara. Apakah potensi ekonomi dan sumber daya manusia negara ini akhirnya terbuka?
Presiden yang turun jabatan, Gloria Macapagal Arroyo telah menjadi seseorang yang rajin dan hard-working. Meski gagal memperbaikan kelemahan struktur negaranya, seperti pajak yang rendah dan birokrasi yang tidak efektif, perekonomian negara ini lumayan memuaskan.
Pertumbuhan digerakkan oleh 11 juta tenaga kerja domestik yang mengabdi di seluruh dunia, dengan kontribusi lebih dari US$1,5 miliar tiap bulan. Negara ini tak luput dari krisis perekonomian dunia yang berpengaruh ke aliran dana. Setelah Badai Ondoy tahun lalu, ketika Marikina menjadi salah satu daerah terparah, volume jumlah uang yang dikirim malah naik.
Sayangnya, reputasi Arroyo ternoda. Ia menjadi figur yang dibenci dan akan meninggalkan kantor setelah sejumlah skandal yang melibatkan suaminya, Mike Arroyo serta putranya yang anggota kongres.
Bagaimanapun, ada napas optimisme dalam pemilu kali ini. Komunitas bisnis kembali berdenyut, peso Filipina menguat dan performa pasar saham membaik.
Tak ada keinginan turun ke jalan. Seperti dikatakan pengamat politik dan penulis, Manuel Quezon III. Kita sebaiknya tidak meremehkan kekuatan rakyat Filipina, meski ada batasannya.
Saya merasa negara ini sedang mengalami situasi serupa dengan Indonesia ketika Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilu 2004 dan mengambil kursi kepresidenan dari Megawati Soekarnoputri. Ketika itu, tak banyak yang melihat kesuksesan Indonesia, seperti saat ini. Seperti inilah Filipina, siap melompat ke depan.
Yang dibutuhkan saat ini hanya kepemimpinan politik. Noynoy pria yang terlalu dipuja mungkin memiliki kualitas ini. Ia bersih dan bertanggung jawab. Reputasi pribadinya untuk kejujuran tak perlu lagi dipertanyakan. Namun mendiang ibunya yang dicintai banyak orang, gagal memimpin negara.
Mari berharap Filipina akan mengikuti contoh yang telah diberikan Indonesia. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !