INILAH.COM, Jakarta- Rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bertemu Bursa Efek Indonesia (BEI) dibatalkan dengan tiba-tiba. Urusan pemecahan masalah suspensi BEI sepertinya masih lebih penting ketimbang
urusan kecil seeprti BUMI.
Apa boleh buat, BUMI harus menelan kekecewaan hari ini. Masalahnya, niatnya untuk bertemu manajemen BEI gagal dilaksanakan. Padahal, BUMI tadinya mau menyampaikan klarifikasi atas transaksi material penjualan saham kelompok Bakrie yang mengakibatkan BUMI disuspensi pada Rabu (8/10) lalu.
"Memang seharusnya kami mengadakan pertemuan dengan manajemen BUMI siang ini. Tapi karena kondisi pasar modal sedang seperti ini, pertemuan tidak jadi dilakukan hari ini," ujar Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah di Gedung BEI, Jumat (10/10).
Harga saham berkode BUMI Senin (6/10) ditutup anjlok 32,03% atau Rp 1.025 ke level Rp 2.175, menjadikan kapitalisasi pasarnya Rp 42,20 triliun. Harga saham ini tergerus 36,52% dalam setahun terakhir, tetapi penurunan harga saham paling banyak terjadi pada tahun ini yang mencapai 63,75% dari level rekor Rp 8.550.
Pada pertengahan Agustus, BUMI melaporkan telah membukukan laba bersih US$ 301,80 juta atau US$ 15,67 per 1.000 saham pada semester I 2008 menyusul harga jual batu bara yang lebih tinggi pada tahun ini.
Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan pertambangan batu bara thermal terbesar di Indonesia itu mencatatkan laba bersih sebesar US$ 720,30 juta dengan memperhitungkan keuntungan (one time gain) sebagai dampak dari penjualan 30% saham PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia kepada perusahaan asal India Tata Power. Tanpa keuntungan divestasi itu, laba bersih BUMI US$ 317 juta.[L5]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !