inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Abiprayadi Riyanto

Reksadana Masih Aman

Headline
Abiprayadi Riyanto
Oleh: Dewangga
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 01:28 WIB
INILAH.COM, Jakarta Kendati pasar bursa terpuruk dalam, menyusul fluktuatifnya pasar finansial global, tidak terjadi penarikan reksadana dalam jumlah yang signifikan (redemption) di industri reksadana.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRI) Abiprayadi Riyanto. Menurutnya, industri reksadana masih relatif normal tidak ada redemption besar-besaran. Bahkan, ada beberapa investor yang menambahkan investasinya. Tapi, karena akhirnya pasar disuspen, pembelian itu tidak bisa dieksekusi dan terpaksa batal.
"Sebenarnya kepanikan belum terjadi di pasar reksadana karena permasalahannya ada di pasar bursa, terkait anjloknya harga saham. Buktinya di reksadana ada Rp 30 triliun," ujarnya.

Menurut Bapepam-LK, total nilai aktiva bersih (NAB), reksadana per 8 Oktober 2008 sebesar Rp 74,773 triliun. Turun Rp 9,126 triliun dari posisi akhir September sebesar Rp 83,9 triliun. Namun jika dibandingkan Januari 2008 yang mencapai Rp 93,956 triliun, NAB sudah anjlok Rp 19,182 triliun.

Adapun penarikan dana atau redemption di industri reksa dana dalam tiga hari perdagangan pekan ini mencapai Rp 849,864 miliar, dengan dana yang masuk (subscription) Rp 738,593 miliar. Sehingga, total penarikan bersih atau net redemption mencapai Rp 111,27 miliar.

Penarikan terbesar adalah reksadana pendapatan tetap yang mencapai Rp 405,81 miliar, hampir setengah dari total penarikan. Sedangkan posisi kedua adalah reksa dana saham senilai Rp 156,686 miliar, kemudian reksa dana campuran sebesar Rp 49,235 miliar. Di sisi lain, dana yang masuk terdiri dari reksa dana pendapatan tetap Rp 180,4 miliar.

Bagaimana kondisi pasar modal saat ini?
Sekarang ini pasar modal butuh ketenangan. Karena itu, kami tetap mengimbau agar investor terutama reksadana tetap tenang. Kami melihat kondisi pasar masih aman dari goncangan krisis likuiditas.
Industri reksadana masih relatif normal tidak ada redemption (penarikan) besar-besaran. Bahkan, ada yang menambahkan investasinya. Tapi, karena akhirnya pasar disuspen, pembelian itu tidak bisa dieksekusi dan terpaksa batal.
Sebenarnya kepanikan belum terjadi di pasar reksadana karena permasalahannya ada di pasar bursa, terkait anjloknya harga saham. Buktinya di reksadana ada Rp 30 triliun. Di bursa kita sekarang ini, yang menahan laju penurunan itu investor domestik. Mereka tidak ikut ke luar. Investor domestik itu ada di reksadana dana pensiun, asuransi jiwa dan lain-lain.

Beberapa kalangan memprediksi akan ada potensi reksadana redemtion saat pasar dibuka, apa pendapat anda?
Mudah-mudahan tren saham reksadana tetap normal. Penarikan hanya terjadi sesaat (temporary down) dan dilakukan oleh investor jangka pendek (short term). Apalagi, penyebab krisis bukanlah faktor domestik melainkan faktor dari luar negeri.
Investor Indonesia saat ini sudah semakin pintar. Sekarang justru saatnya investor masuk karena justru harga sedang murah-murahnya, lagi diskon. Ini great sale untuk membeli saham. Sehingga kalau indeksnya naik lagi, investor akan mendapatkan keuntungan berlipat.
Mungkin saja saham yang dibeli murah akan dibeli naik 100%. Saat ini investor asing di pasar saham sudah menarik dananya secara besar-besaran dari pasar Indonesia. Pokoknya mereka ke luar dari emerging market (pasar negara berkembang). Misalnya, mereka sudah rugi di sana, dan mereka untung di sini, mereka ke luar. Ini momentum bagus bagi investor dalam negeri untuk mengambil peran lebih saat ini.

Apakah kepanikan akan terjadi lagi kalau bursa global dan regional anjlok?
Ketenangan pasar butuh dukungan berbagai pihak. Seperti misalnya, kepanikan di bursa efek global dan domestik tidak diperkeruh atau didramatisir pemberitaan media. Meskipun investor kita sudah dewasa, namun masih khawatir terhadap isu anjloknya saham yang terjadi saat ini.

Bukankah ada pengalihan dari Tidak ada kekhawatiran di pasar reksadana?
Saya sebenarnya melihat potensi pemburukan dari pasar reksadana, terutama untuk reksadana fixed income, yang mendominasi dana kelolaan. Untuk fixed income ada switching. Karena kenaikan suku bunga BI rate menyebabkan harga obligasi anjlok dan para pelaku pasar akan beramai-ramai melakukan swicthing ke deposito.
Reksadana fixed income akan mengalami penurunan NAB, dan dikhawatirkan penjualan ini akan mempengaruhi industri pasar modal. Untungnya pemerintah untuk sementara ini tidak menerapkan mark to market untuk penentuan harga obligasi. Penggunaan sistem akunting mark to market saat harga obligasi terpuruk, akan menjatuhkan NAB reksadana fixed income.

Apa langkah ideal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menenangkan pasar?
Dengan usaha pembelian kembali (buy back) saham-saham BUMN, diharapkan market bisa lebih tenang. Karena, hal itu akan memberikan perubahan bagi investor mengoleksi saham-saham sehingga akan berdampak signifikan terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG).
[E2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.