Minggu, 27 Mei 2012 | 03:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Investor Lokal Ayo Beli BUMI
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: M Dindien Ridhotulloh
web - Senin, 13 Oktober 2008 | 11:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Saat harga saham tertekan, banyak peluang membeli perusahaan besar di Indonesia seperti PT Bumi Resources (BUMI). Apalagi BUMI kebetulan tengah bermasalah. Berbagai cara ditempuh termasuk hostile takeover atau mencaplok paksa.
Banyak perusahaan di Indonesia yang mengalami kesulitan seiring anjloknya harga saham. Belum lagi kesulitan untuk mencari pinjaman atau melunasi utang-utangnya karena likuiditasnya yang ketat sehingga terpaksa pemegang saham melepas kepemilikannya.
Inilah yang saat ini terjadi pada perusahaan tambang terbesar di Tanah Air, BUMI. Perusahaan milik Grup Bakrie ini pun menjadi sasaran strategis perusahaan asing.
Kali ini Tata Grup diisukan siap mencaplok 25% saham BUMI yang saat ini tengah kesulitan cash flow untuk menebus repo (gadai saham). Selain itu juga akan kena pinalti karena harga saham yang dijaminkan ke lender mengalami penurunan.
Sementara JP Morgan adalah perusahaan yang paling banyak memegang Repo BUMI. Kabarnya dalam pembicaraan Tata Power Energy akan membeli BUMI. Namun muncul kecurigaan Tata akan melakukan pembelian dengan cara hostile takeover alias mencaplok secara paksa. Apalagi Tata sudah pernah beli saham BUMI sebanyak 35%.
Sebelum Tata, sederet konsorsium besar dikabarkan pula ingin membeli saham BUMI. Seperti konsorsium PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) menjajaki kemungkinan membeli 35% saham BUMI dengan menggunakan kas internal.
Selain itu juga konsorsium Sampoerna, Putra Mas Agung, Tommy Winata, dan kelompok Djarum juga siap membeli saham BUMI bahkan siap melakukan hostile takeover dengan membeli saham yang beredar di pasar. Rumor yang beredar, BUMI ditawarkan pada kisaran Rp 2.500-2.700 per lembar.
Sementara itu pemerintah mengizinkan PTBA dan ANTM mengakuisisi Bumi Resources (BUMI) karena harga saham perusahaan milik grup Bakrie tersebut saat ini cukup menarik.
Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan saat ini merupakan kondisi paling tepat bagi 2 perusahaan tambang itu untuk membeli BUMI. Namun, sejauh ini belum ada laporan resmi yang masuk ke Kementerian BUMN seputar rencana tersebut.
Sementara itu Bakrie & Brother (BNBR) rencananya akan menjual anak usahanya hingga 10% termasuk BUMI untuk meraih dana US$ 1,2 miliar guna membayar semua utang perusahaan.
BNBR, yang dikendalikan keluarga Bakrie, akan mempertahankan kendali di BUMI setelah penjualan saham. BUMI berencana untuk menghabiskan US$ 1 miliar untuk melakukan buyback saham guna membatasi dilusi kepemilikan BNBR dan menjaga kendali di perusahaaan tambang tersebut.
Dirut BUMI Ari S Hudaya memperkirakan laba bersih hingga kuartal III 2008 akan mencapai US$ 800 juta. Perolehan laba yang masih tinggi ini disebabkan penjualan batubara secara kontrak bukan lewat pasar spot, sehingga penurunan harga saat ini tidak berpengaruh signifikan pada pendapatan Perseroan.
Perseroan juga mencatat penurunan beban operasional akibat pelemahan harga minyak di pasar global. Hingga kini EBITDA Perseroan diperkirakan lebih dari US$ 1 miliar. Saat ini saham BUMI masih disuspen BEI bersama emiten group Bakrie lainnya.
Banyak analis yang memberikan rekomendasi positif untuk saham BUMI. Trimegah menyarankan investor untuk membeli saham BUMI ketika suspensi dibuka dengan target harga Rp 3.300 per lembar. Sementara Samuel Sekuritas juga merekomendasikan beli saham BUMI untuk investasi jangka panjang.
Saham BUMI memang menarik. Namun ada baiknya investor lokal yang membeli saham produsen batubara itu. Kalau perlu melakukan hostile takeover di lantai bursa sehingga BUMI tak jatuh ke pemegang saham asing. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.