INILAH.COM, Jakarta Menkeu Sri Mulyani dikabarkan ngotot untuk membuka suspensi perdagangan saham kelompok Bakrie Senin ini (13/10).
Usul untuk membuka perdagangan saham kelompok Bakrie itu dalam rapat internal bersama Wapres Jusuf Kalla, Menneg BUMN Sofyan Djalil dan Mensesneg Hatta Radjasa di rumah dinas wapres jl. Diponegoro No 2, Menteng, Jakarta Pusat.
Namun, upaya Sri untuk membuka suspensi saham Bakrie itu dimentahkan dalam forum rapat internal itu, sehingga hingga pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin ini (13/10), saham-saham perusahaan di bawah payung Group Bakrie masih disuspensi.
Jika melihat kengototan Sri Mulyani untuk membuka kembali saham Bakrie hari ini, kemudian memunculkan pertanyaan, yaitu ada apa di balik kegigihan Menkeu untuk memaksa membuka suspensi perdagangan saham kelompok Bakrie.
Padahal dalam pertemuan akhir pekan lalu para pimpinan Bakrie sudah memohon kepada otoritas bursa untuk tetap melakukan suspensi terhadap saham mereka karena kelompok usaha milik keluarga Aburizal Bakrie itu tengah sibuk melakukan aksi korporasi, yaitu transaksi penjualan saham di sejumlah perusahaan afiliasi Bakrie & Brothers, dan juga tengah mempersiapkan upaya untuk membeli kembali saham (buyback).
Apalagi jika mengacu pada kondisi yang dialami Bank Internasional Indonesia (BNII) yang juga sempat disuspensi selama 2 bulan karena perseroan itu melakukan aksi korporasi yang tengah dipinang oleh sebuah bank Malaysia, Maybank.
Nah, kembali pada kondisi di kelompok Bakrie, yang meliputi PT Bumi Resources (BUMI), yang akan dilepas sekitar 10% sahamnya ke sejumlah pembeli potensial. Untuk itulah, pimpinan Bakrie ingin agar BEI tetap melakukan suspensi terhadap saham-saham kelompok usaha itu hingga semua transaksi dan aksi korporasi tuntas pekan depan.
Alasannya, jika suspensi terhadap saham perusahaan kelompok Bakrie dipaksakan dibuka, dikhawatirkan kerugian investor akan lebih besar lagi karena kondisi pasar belum kondusif. Terlebih emiten di kelompok Bakrie secara kapital menguasai sekitar 30% bursa saham.
Jadi alasannya cukup rasional dan demi menjaga agar bursa saham tidak jatuh terlalu dalam jika suspensi saham emiten kelompok Bakrie dipaksakan dibuka hari ini.
Ini yang menjadi pertanyaan, mengapa Menkeu sampai harus ngotot ingin membuka kembali perdagangan saham kelompok Bakrie, meski ia tahu risikonya akan lebih berat lagi.
Rumors yang berkembang di pasar menyebutkan menkeu ngotot ingin membuka suspensi saham Group Bakrie karena ia ingin saham itu jatuh lebih dalam lagi sehingga akan menguntungkan pesaingnya, yaitu grup Medco. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Sri Mulyani memiliki hubungan dekat dengan Arifin Panigoro, pemilik Medco.
Gejala 'ketidaksenangan' Menkeu terhadap kelompok Bakrie itu muncul ketika Depkeu menerapkan cekal terhadap para pengusaha tambang batubara, yang di dalamnya termasuk perusahaan afiliasi Bakrie & Brothers. Juga terkait penanganan kasus semburan Lumpur Porong.
Sebelumnya, terkait dengan suspensi perdagangan BEI pekan lalu, Sri Mulyani mengumumkan siapa pun pihak yang diketahui menjadi penyebab kemerosotan harga saham akan ditindak. Hal itu diikuti dengan langkah BEI dan Bapepam LK bersama anggota bursa untuk melakukan evaluasi pascasuspensi BEI.
"Setelah evaluasi yang detil, otoritas pasar modal melihat ada pihak yang mengambil keuntungan di tengah kondisi ini dengan melakukan transaksi terlarang, seperti short selling. Juga karena faktor gagal bayar Bakrie dan margin call yang tidak selesai. Ini yang menyebabkan indeks terkoreksi tajam sehingga mendorong force selling," kata Sri Mulyani.
Untuk masalah ini, JPMorgan Securities yang patut disalahkan, karena ulahnya menyebabkan lonjakan angka transaksi. Terjadi misleading yang merugikan pelaku pasar modal.
Kabarnya, upaya Sri untuk membuka suspensi saham Bakrie kemungkinan akan membuahkan hasil karena pada perdagangan Selasa (14/10) disebutkan saham-saham bakrie akan diperdagangkan kembali.
Benarkah itu hanya sebatas rumors? Hanya Sri Mulyani yang tahu. [L2]