inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Saham 'Buyback' Layak Koleksi

Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
Senin, 13 Oktober 2008 | 12:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Bursa dibuka kembali setelah disuspensi 2,5 hari. Kendati indeks saham terpantau melemah pada hari pertama pembukaan, beberapa emiten dinilai berpotensi dikoleksi, terutama saham BUMN yang masuk dalam program buyback.
Head of Research Sarijaya Securities Danny Eugene mengatakan, kondisi indeks saham yang negatif di tengah membaiknya bursa regional adalah hal yang wajar. Menurutnya, hal ini disebabkan penyesuaian pasar terhadap bursa regional dan global setelah tutup beberapa hari.
"Market saat ini mengalami akumulasi kerugian dari penutupan pasar selama 2,5 hari. Namun, dalam 1-2 hari ke depan, market akan rebound," papar Danny optimistis.
Dalam kondisi seperti ini, ia pun menyarankan agar investor mencermati pasar untuk mengambil posisi, serta mengurangi portofolio saham sebesar 20-30% saja. "Fundamental emiten sebenarnya masih kuat dengan harga yang sudah sangat murah," paparnya.
Danny pun merekomendasikan investor mengkoleksi emiten BUMN, terutama yang masuk dalam program buyback (pembelian saham kembali). Beberapa saham yang disarankan adalah PT Telkom (TLKM), PT Bukit Asam (PTBA), PT Aneka Tambang (ANTM), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Jasa Marga (JSMR), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Semen Gresik (SMGR).
Menurut Danny, kinerja TLKM pada semester pertama 2008 memang mengalami penurunan karena adanya persaingan tarif, namun Danny meyakini, sektor telekomunikasi berpotensi besar menjadi penggerak indeks.
Terutama dengan gencarnya akusisi dan ekspansi bisnis perseroan, seperti pembangunan menara, pengembangan broadband, hingga telepon jaringan."Tahun depan peluang saham TLKM akan bagus," ujarnya.
Selain itu, saham PTBA juga dinilai prospektif terkait progam buyback ini. Apalagi perseroan mempunyai dana cash yang dinilai akan mempercepat pembelian kembali sahamnya di bursa.
Selain itu, kendati harga batubara diperkirakan tidak akan naik lagi, proyek pembangkit tenaga listrik 10 ribu MW dari pemerintah membuka peluang bagi perusahaan batubara ini. "Target harga untuk PTBA adalah 17.000 per lembarnya," katanya.
PTBA akan menggelontorkan dana Rp 1 triliun untuk buyback, sedangkan laba bersih akibat buyback diprediksi turun Rp 47,233 miliar.
Adapun ANTM dinilai merupakan saham buyback yang paling bagus saat ini. Hal ini terkait gencarnya aksi perseroan melakukan diversifikasi usaha ke komoditas lain selain nikel.
Pasalnya, jatuhnya harga nikel dunia telah membuat laba bersih ANTM semester pertama 2008 turun 49% menjadi Rp 1,465 triliun. Selama September, perseroan telah melakukan eksplorasi nikel, emas, bauksit dan batubara senilai Rp 17,3 miliar.
Danny hanya mengkhawatirkan program buyback akan mengurangi kemampuan perseroan dalam membiayai rencana ekspansinya. "Ekspansi Antam masih berlanjut hingga 4 tahun mendatang, yang jadi masalah kalau jadi buyback, akan seperti apa?" tanyanya.
Sementara itu, saham BUMN lain yang menarik untuk dikoleksi adalah PGAS. Hal ini terkait wewenang harga yang diberikan kepada perseroan untuk menentukan sendiri besaran harga jual gas.
PGAS menargetkan pada kuartal III tahun ini mampu membukukan laba bersih Rp 1,8 triliun atau naik 45% dibanding kuartal III tahun lalu. Hal ini ditunjang dari pendapatan yang naik 50% menjadi Rp 9 triliun.
Untuk kebutuhan buyback, PGAS siap mengeluarkan dana sebesar Rp 450 miliar, yang berasal dari saldo laba perseroan per 31 Desember 2007 senilai Rp 1,46 triliun.
Sementara untuk saham SMGR, Danny juga masih merekomendasikan beli. Bisnis perseroan dalam beberapa tahun ke depan dinilai akan meningkat, demikian juga kinerja usahanya.
SMGR melakukan buyback sahamnya sebanyak 1.186.304.000 saham atau 20 % yang akan dilakukan secara bertahap dalam tiga bulan. Dana yang disiapkan adalah Rp 1 triiun yang berasal dari saldo laba ditahan. "Saya rekomendasikan beli SMGR dengan target harga Rp 5.500 per unit," jelasnya.
Saham BUMN lain yang disarankan Danny adalah JSMR dan WIKA dari sektor infrastruktur. Saham JSMR diperkirakan akan rebound secara teknikal karena saat ini berada pada area jenuh jual. "Kami targetkan harga JSMR Rp 2.000 per lembarnya," ujar Danny.
JSMR akan melakukan buyback lebih dari 5% dananya berasal dari kas internal perseroan. Namun, JSMR tampaknya tidak akan melakukan buyback lebih dari 10% karena perseroan sedang melakukan berbagai ekspansi pembangunan jalan tol.
Sedangkan WIKA yang akan menggelontorkan Rp 140 miliar untuk dana buyback, juga dinilai menarik dengan berbagai aksi korporasinya. Pada Agustus lalu WIKA mengumumkan berhasil mendapatkan dua kontrak baru senilai Rp 299,5 miliar.
WIKA saat ini telah berhasil menguasai 30% dari proyek pembangkit listrik 10.000 MW. Dengan berbagai proyek yang telah dikantongi dan proyek tambahan yang sedang diincar, kinerja WIKA diperkirakan meningkat. "Target harga untuk WIKA kami posisikan di Rp 390 per lembarnya," katanya.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.