INILAH.COM, Jakarta Cadangan devisa di BI bertambah setelah Bank Dunia setuju memberikan pinjaman siaga US$ 5 miliar. Mudah-mudahan nafsu orang memburu dolar akan berkurang. Dan, posisi rupiah pun bisa diamankan.
Cadangan devisa merupakan benteng pemerintah untuk menghadapi para spekulan dolar. Itu sebabnya, ketika cadangan devisa menunjukan tanda-tanda mulai menipis, pemerintah buru-buru terbang ke Amerika menemui pejabat tinggi Bank Dunia untuk mendapatkan pinajaman siaga (standby loan). Syukurlah, Bank Dunia masih bersedia memberikan pinjaman siaga US$ 5 miliar untuk mengisi cadangan devisa yang mulai menipis.
Memang banyak yang was-was ketika cadangan devisa amblas dari US$ 58,356 miliar di akhir Agustus menjadi US$ 57,108 miliar pada September lalu. Artinya, dalam tempo satu bulan, cadangan devisa telah berkurang sekitar US$ 1,250 miliar. Peristiwa yang jarang terjadi sejak krisis moneter 1997 - 1998.
Melihat cadangan devisa yang terus menciut, tak heran bila banyak orang memborong dolar. Kurs dollar yang pada Jumat (10/10) pagi masih Rp 9.680 langsung terbang ke angka Rp 10.050.
Pengamat pasar uang sudah menduga, penampilan cadangan devisa memang akan demikian. Sebab, menurut mereka, BI memakai sebagian cadangan devisanya untuk mengintervensi pasar. Maklum, krisis ekonomi membuat para investor menarik uangnya di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
"Mereka menarik uangnya dari emerging market, lalu menyimpan di safety asset seperti treasury bill," kata seorang bankir swasta.
Karena itu, Gubernur BI Boediono bergegas terbang ke markas Bank Dunia di Washington, Amerika. Selain mengupayakan pinjaman siaga, BI juga agaknya masih akan tetap melanjutkan kebijakan moneter ketat (tight money policy). Sebab, kalau terlalu banyak uang beredar, sebagian akhirnya akan menjelma menjadi permintaan valuta asing. Jika itu terjadi, maka cadangan devisa akan cepat menyusut dan inflasi berkobar.
Dengan tambahan pinjaman siaga US$ 5 miliar, jumlah cadangan devisa di tangan BI diperkirakan menjadi lebih dari US$ 60 miliar. Walau pun rasa cemas itu masih ada, namun jumlah tersebut diharapkan dapat sedikit mengendurkan nafsu orang memburu dolar. [I4]