INILAH.COM, Jakarta - Mantan Menko Ekuin Rizal Ramli mengaku amat kecewa dengan cara penanganan Menkeu Sri Mulyani Indrawati atas perekonomian nasional yang diseretnya ke arus neoliberalisme.
Akibatnya, ketika bursa saham jatuh, Sri Mulyani tetap bertahan pada neoliberalismenya.
Menurut sumber di Istana, Sri Mukyani malah mendesak agar saham Bakrie & Brothers dibuka suspensinya secepatnya.
Pada Senin pagi ini (13/10) di kantor Wapres Jusuf Kalla, digelar rapat internal yang melibatkan Menkeu Sri Mulyani, Menneg BUMN Sofyan Djalil dan Mensesneg Hatta Radjasa.
Dalam rapat itu Menkeu tetap ngotot agar saham perusahaan di kelompok Bakrie dibuka suspensinya meski harganya sudah jatuh murah.
"Saya kecewa, sektor riil sudah hancur dan kini dipukul jatuhnya bursa saham. Ini semua akibat kebijakan Menkeu Sri Mulyani dan Boediono yang neoliberal itu. Sri Mulyani itu menkeu neolib tulen, dan dia tidak lahir dari seorang aktivis pergerakan sehingga dia tidak memiliki visi, patriotisme dan spirit nasionalisme ekonomi seperti Hatta, Sjahrir, Ali Sastroamidjojo dan lainnya," katanya di Jakarta, Senin (13/10).
Menurut Rizal, Sri Mulyani hanya mengekor mafia Berkeley yang sudah diakui gagal oleh almarhum Prof Sumitro Djojohadikusumo sebagai bapaknya 'teknokrat Mafia Berkeley'.
Rizal memperingatkan Susilo Bambang Yudhoyono agar kritis dan waspada dengan resep-resep mafia Berkeley dari Sri Mulyani yang jelas mengekor teextbook Amerika.
"Resep itu hanya cocok untuk AS, tapi tidak untuk Indonesia. Soekarno menyebut sarjana textbook itu sebagai 'sarjana diktat' yang tidak kreatif," kata Rizal.
Rizal juga mendesak tim Ekuin Kabinet Indonesia Bersatu untuk mencari solusi kreatif dan rasional dalam menyelamatkan ekonomi nasional.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !