INILAH.COM, Jakarta Sebagai seorang mantan pengamat, Sri Mulyani tahu persis risiko indeks saham tambah anjlok jika suspensi saham emiten besar seperti kelompok Bakrie dicabut. Namun Plt Menko Perekonomian itu ngotot. Ada pesanan dari IMF?
Ekonom UGM, Revrisond Baswir mengatakan kengototan Sri Mulyani mencabut suspensi terhadap saham-saham yang dimiliki Bakrie Group sama saja dengan keinginan 'menggorok' saham-saham perusahaan tersebut.
Sri Mulyani juga, lanjut Revrisond, ingin bermain dengan citra. Menteri Keuangan yang juga alumni IMF itu ingin mencoba meyakinkan publik bahwa situasi terkendali dengan dibukanya bursa.
"Saham yang yang sebelumnya disuspensi coba dipaksakan untuk dibuka," katanya, saat dimintai komentar INILAH.COM, di Jakarta, Senin (13/10)
Usul untuk membuka perdagangan saham kelompok Bakrie itu mencuat dalam rapat internal bersama Wapres Jusuf Kalla, Menneg BUMN Sofyan Djalil dan Mensesneg Hatta Radjasa di rumah dinas wapres di Jl Diponegoro No 2, Menteng, Jakarta Pusat.
Namun, upaya Sri untuk membuka suspensi saham Bakrie itu dimentahkan dalam forum rapat internal itu. Hingga pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham perusahaan di bawah payung Group Bakrie masih disuspensi.
Dalam pertemuan akhir pekan lalu para pimpinan Bakrie sudah memohon kepada otoritas bursa untuk tetap melakukan suspensi terhadap saham mereka. Alasanya waktu itu, kelompok usaha milik keluarga Aburizal Bakrie itu tengah sibuk melakukan aksi korporasi.
Grup Bakrie memang tengah menyelesaikan transaksi penjualan saham di sejumlah perusahaan afiliasi Bakrie & Brothers, dan mempersiapkan upaya untuk membeli kembali saham (buyback).
Hal seperti ini sudah biasa terjadi dalam proses perdagangan saham. Belum lama ini saham PT Bank Internasional Indonesia (BNII) juga sempat disuspensi selama dua bulan karena perseroan itu melakukan aksi korporasi yani tengah dipinang olehMaybank.
Banyak rumor beredar menyangkut kengototan Sri Mulyani untuk membuka suspensi saham kelompok Bakrie ini. Dari mulai rumor tentang upaya Sri Mulyani yang ingin menjatuhkan saham Bakrie untuk menguntungkan pelaku usaha lainnya yang dikenal dekat dengannya.
Sri Mulyani dikenal memiliki hubungan dekat sejumlah pengusaha seperti Arifin Panigoro, pemilik Medco. "Itulah yang saya maksudkan. Kengototan itu, sama saja dengan keinginan untuk menggorok saham-saham yang dimiliki Bakrie," tandasnya.
Gejala 'ketidaksenangan' Menkeu terhadap kelompok Bakrie sudah sejak lama terlihat. Salah satunya yang muncul akhir-akhir ini adalah pencekalan Depkeu terhadap para pengusaha tambang batubara, yang di dalamnya termasuk perusahaan afiliasi Bakrie & Brothers. Juga terkait penanganan kasus semburan Lumpur Porong.
Isu lain yang berkembang adalah kedekatan Sri Mulyani dengan dana moneter internasional (IMF) dan Bank Dunia. Bahkan Sri Mulyani baru saja dipercaya sebagai anggota Komite Reformasi Internal IMF.
Jika saja Menkeu ngotot membuka suspensi saham Group Bakrie berarti ia ingin indeks harga saham gabungan (IHSG) terus merosot lagi. Apalagi kapitalisasi saham Grup Bakrie ini cukup besar dan sangat berpengaruh terhadap pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI)
Anjloknya saham kelompok Bakrie juga membuka peluang bagi pihak lain terutama asing untuk melakukan pembelian sahamnya dengan harga sangat murah. Padahal kelompok usaha Bakrie bergerak di sektor bisnis yang potensial dari mulai pertambangan, properti hingga migas.
Revrisond juga mengungkapkan kengototan Menkeu ini tidak menutup kemungkinan 'pesanan' dari lembaga keuangan multinasional seperti IMF dan Bank Dunia.
"Sebab, kalau saham-saham itu anjlok, nanti kan perusahaan itu harus diselamatkan. Dan ini merupakan peluang mereka (asing) untuk melakukan pembelian murah-murahan. Konteks pembukaan suspensi Bakrie lebih kepada apa yang disebut sebagai agenda ekonomi neo-liberal," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !