INILAH.COM, Jakarta Di tengah paniknya sejumlah pelaku pasar, PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) justru menambah portofolio investasi untuk saham. Mereka menyiapkan Rp 1,2 triliun unruk membeli sejumlah saham unggulan (bluechips).
Peluang itu dilaksanakan pada saat harga saham-saham unggulan mengalami penurunan tajam. Dengan begitu, kecuali diharapkan bisa mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG), Jamsostek juga memperhitungkan bisa meraih untung.
Saat ini total dana Jamsostek yang diinvestasikan di saham mencapai Rp 11,16 triliun. Angka tersebut berarti 18% dari dari total dana yang masuk kategori investable senilai total Rp 62 triliun.
Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan dengan tambahan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk investasi di saham, maka BUMN ini akan memiliki portofolio investasi di saham sebesar 20%.
Dia mengatakan perusahaannya akan membeli saham-saham unggulan yang berpotensi untuk rebound pada masa yang akan datang. Apalagi Jamsostek memiliki batas maksimal investasi di saham hingga 50% dari dana kelolaan.
Sampai saat ini, investasi di lantai bursa, sejatinya belum dominan dalam hal kontribusi pendapatan tetap perusahaan pengelola asuransi tenaga kerja itu. Pendapatan tetap Jamsostek masih dominan dibukukan dari obligasi dan deposito.
Khusus deposito, Jamsostek menempatkan dananya di lima bank BUMN ternama, yakni BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Ekspor Impor (BEI). Terdapat tiga bank yang menyimpan dana Jamsostek dalam jumlah yang cukup besar. Di BNI, Jamsostek menyimpan dana sebesar Rp 2,7 triliun, BRI sebesar Rp 3 triliun, sedangkan Bank Mandiri di bawah Rp 1 triliun.
Langkah menambah investasi di saham ini sejalan dengan himbauan Kementerian BUMN. Kementerian meminta perusahaan pelat merah yang memiliki kelebihan dana untuk masuk ke pasar dan membeli saham-saham emiten, terutama BUMN.
Padahal, anjloknya harga saham di lantai bursa, membuat Jamsostek mencatat terjadinya potential loss sebesar Rp 2,4 triliun. Namun potensi kerugian itu berdampak pada berkurangnya ekuitas dan tidak mempengaruhi neraca laba-rugi perseroan. Beberapa saham emiten yang memberi gain besar kepada Jamsostek di antaranya saham Telkom, Astra Agro Lestari, serta Indofood.
Kecuali perusahaan pelat merah, Menteri Sofyan Djalil juga sudah meminta sejumlah BUMN yang sudah melepas saham di lantai bursa untuk melakukan buyback pembelian kembali saham mereka. Di samping untuk menggairahkan bursa, kebijakan ini dianggap juga bisa memberi keuntungan.
Total dana yang dialokasikan BUMN terbuka mencapai Rp 6 triliun. Tapi, Kementerian Negara BUMN menyatakan program ini tidak dimaksudkan untuk melawan pasar.
Menteri Sofyan menjelaskan tujuan utama buyback adalah untuk memberi pesan kepada investor bahwa saham BUMN prospektif. Pasalnya, fundamental hampir seluruh BUMN cukup bagus.
Dan, kebijakan itu mendapat sambutan bagus. Buktinya, begitu menjulangnya kenaikan saham BUMN membuat otoritas bursa memberlakukan kebijakan auto rejection terhadap empat saham BUMN dan tiga perusahaan swasta. Sebagian masuk dalam daftar pengangkat indeks.
Kenaikan harga saham PT Aneka Tambang Tbk terhenti di level 9,82%, PT Tambang Batubara Bukit Asam di level 9,52%, PT Semen Gresik Tbk sebesar 9,73%, PT Jasa Marga Tbk sebesar 9,2%, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk sebesar 9,43%. Di sisi lain, saham PT Indosat Tbk terhenti di level 9,49%, PT Indofood Sukses Makmur Tbk di level 9,2%, dan PT Gudang Garam Tbk di posisi 9,62%.
Auto rejection adalah mekanisme penghentian perdagangan saham secara otomatis di dalam sistem perdagangan otomatis Jakarta (JATS) untuk menangkal fluktuasi harga. Semula, auto rejection diberlakukan terhadap saham yang menguat atau anjlok sebesar 30% dalam sehari perdagangan. Terhitung sejak pembukaan awal pekan ini, PT Bursa Efek Indonesia mengubah toleransi pergerakan saham menjadi 10%. [I4]