INILAH.COM, Jakarta Rumor terbantahkan, prospek saham kelompok Bakrie pun siap melambung. Rumor gagal bayar gadai saham dan penjualan paksa atas semua saham gadai tak terbukti. Perseroan kini siap melakukan rasionalisasi aset dan buyback saham.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih melakukan suspensi perdagangan saham kelompok Bakrie. Hal ini seiring dengan permintaan manajemen yang meminta penundaan perdagangan hingga sepekan ke depan untuk melakukan rasionalisasi aset grup.
Saat ini PT Bakrie & Brothers (BNBR) memiliki sisa pinjaman yang harus segera dibayar total senilai US$ 1,2 miliar. Utang itu berasal dari tiga kreditor besar yakni Odickson Finance, JP Morgan Chase & Co, dan ICICI Bank Ltd.
Utang tersebut telah dijaminkan dengan aset perusahaan senilai US$ 6 miliar. Perseroan telah melunasi sebagian utang dari JP Morgan senilai US$ 78 juta, Odickson US$ 70 juta, ICICI Bank US$ 45,5 juta.
Saham-saham yang digadaikan adalah saham PT Bumi Resources (BUMI) sebesar 5,12 miliar saham, PT Energi Mega Persada (ENRG) 4,7 miliar saham, PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) hingga 278,29 juta saham serta PT Bakrieland Development (ELTY) sebanyak 3,79 miliar saham.
BNBR berencana menjual saham satu hingga beberapa anak usahanya, termasuk saham BUMI agar terhindar dari ancaman gagal bayar utang total senilai US$ 1,2 miliar itu.
Perseroan berusaha memenuhi covenan senilai US$ 6 miliar mengingat nilai saham emiten Grup Bakrie yang dijaminkan mengalami penurunan nilai.
Nilai jaminan yang terdiri dari saham BUMI, UNSP, ENRG, dan ELTY itu pada penutupan pasar 6 Oktober 2008 telah merosot menjadi Rp 13,29 triliun atau US$ 1,35 miliar dengan asumsi nilai tukar rupiah per dolar AS sebesar 9.850.
Perseroan memutuskan untuk mendivestasi atau menggandeng investor strategis atas saham Bumi Resources, Energi Mega Persada, Bakrieland Development, Bakrie Telecom dan Bakrie Sumatera Plantations.
Namun keluarga Bakrie masih akan tetap mendominasi kepemilikan di BNBR. "Meski rasionalisasi dilaksanakan, kami memutuskan tetap menjadi single majority di Bakrie & Brothers," tandas Anindya Bakrie yang mewakili keluarga Bakrie.
Negosiasi masih terus berlangsung dengan beberapa bidder dan manajemen belum bisa memberitahu anak usaha mana yang akan dilepas dan berapa persen kepemilikan yang dijual.
Grup Bakrie juga meminta seluruh anak usaha untuk melakukan buyback. BUMI dikabarkan akan menaikkan hingga batas maksimum 20% dengan pendanaan dari internal kas dan pinjaman. BUMI saat ini masih memiliki kas dan dana setara kas senilai US$ 300 juta dan berencana mencari pinjaman untuk keperluan buyback saham dan ekspansinya.
Atas aksi kelompok Bakrie ini, sejumlah perusahaan sekuritas menanggapinya dengan cara beragam. Riset Samuel Sekuritas Selasa (14/10) misalnya merekomendasikan hold untuk saham BNBR sementara Paramitra Alfa Sekuritas menyarankan buy on weakness.
Sebagai catatan saham kelompok Bakrie saat ditutup sebelum disuspensi pekan lalu berada di level Rp 145 per lembar merosot dibanding tiga bulan lalu Rp 300 untuk BNBR. Sementara saham BUMI berada di level Rp 2.175 dibanding tiga bulan lalu yang masih bertengger di angka Rp 5.050 per lembar. Demikian pula saham ELTY melemah dari tiga bulan di level Rp 345 menjadi Rp 150 per lembar.
Saham grup Bakrie lainnya ENRG juga melemah dari Rp 710 per lembar dari tiga bulan lalu menjadi Rp 350 per unit, saham UNSP pada pekan lalu sudah berada di level Rp 460 dibanding Rp 1.080 per lembar.