TIGA belas tahun lalu, saya mengunjungi pameran tunggal kecil-kecilan di sebuah area yang tidak terlalu ramai di Jakarta. Waktu itu saya tidak mengenali nama si pelukis: Agus Suwage.
Lukisan beliau terasa muram dan menghantui. Dalam kemegahannya (yang diperciki sentuhan pelukis Jerman, Anselm Kiefer), ada gema kemurungan era itu di kanvasnya.
Saya belum pernah melihat lukisan seperti ini karya seni yang begitu Indonesia, namun sangat erat terhubung dengan dunia secara keseluruhan. Saya merasa harus memiliki satu saja dari jejeran lukisan ini. Saya membeli salah satu, dan dimulailah 'dialog' (sebagai seorang kolektor dan penulis) yang terus berlanjut hingga sekarang.
Minggu lalu, Agus dan dealer utamanya, Biantoro, meluncurkan buku yang mendokumentasikan retrospektif karya-karyanya pada 2009, Still Crazy After All These Years. Saya ikut menyumbang esai di buku itu. Saya masih dibuat terpukau dengan bagaimana karya Agus merefleksikan bahkan memanifestasikan perubahan yang dialami Indonesia sejak 1997.
Sejumlah lukisan Agus ada di antara ranah serius dan canda. Ada pepatah Jawa yang sangat menarik, yang dikutip sejarawan Benedict Anderson, yang menangkap ambiguitas ini dengan sangat tepat: Sing ora ana, ana, sing ana, ora ana (Yang tidak ada, ada, dan yang ada, tidak ada).
Jelas Agus begitu senang bermain-main dengan ketidakgamblangan yang sangat elegan dari akar Jawa, lepas dari segala reputasinya yang anti-kemapanan sebagai aktivis. Malah, dia seperti merayakan kebingungan ini: meleburkan fantasi dan realitas.
Dengan cara ini, dia merefleksikan kegilaan kehidupan publik di Indonesia, di mana kebenaran seringkali susah ditangkap: ke mana dana bailout itu pergi? Apa yang menyebabkan aliran lumpur di Jawa Timur?
Sejumlah pertanyaan seperti inilah yang dimainkan Agus, dan diolahnya dengan gairah begitu hebat. Dia menyindir dan mengomentari dunia di sekitarnya, dengan tidak pernah kehilangan kehangatan dan humornya yang usil. Dia melakukan ini dengan menggunakan tubuhnya sebagai medium, kebanyakan melalui serangkaian potret diri.
Dia mengorkestrasi spektrum emosi dan situasi. Terkadang dia riang dan penuh senyum, di lain waktu murung dan kesal. Tidak jarang karakternya muncul sebagai proyeksi dari negaranya dan naik-turunnya eepublik ini selama 10 tahun terakhir.
Dalam pameran pada 2002, I+I+I, Agus melukiskan dirinya sedang menjalani perawatan intensif. Melihat ke belakang, ini seperti melontarkan pertanyaan: yang menjalani perawatan ini Indonesia atau Agus?
Nyali seperti ini memang jadi mengundang musuh. Tahun 2005, pameran Agus terpaksa dibatalkan setelah diprotes aktivis antipornografi yang merasa tersinggung.
Namun begitu, Agus tetap menjadikan tubuhnya sebagai pusat dari proses artistiknya. Ini sejalan dengan akar aktivisnya dan komitmen yang tak tergoyahkan untuk kemanusiaan.
Tentu saja, ini berarti tidak ada yang tabu bagi Agus. Tak ada yang bisa luput dari sindiran dan ejekannya. Puncaknya adalah pada pamerannya 2007, The Times They Are a-Changing (yang dikutip dari mahakarya Bob Dylan), di mana ia melukis The Beatles yang berlumur daging mentah sedang mengasuh bayi.
Tapi, bahkan pada saat itu pun, elemen penghormatan sungguh terasa. Agus adalah seorang musikus yang serius, dan lukisan-lukisannya pada 2007 ini seperti dijiwai medium musik. Karyanya diperkaya dan diperdalam oleh percampuran bunyi dan elemen visual, yang mengeksplorasi asam garam kemasyuran. Yang lebih penting, semuanya terasa seru saja.
Tapi, Agus tidak selalu sebersahabat ini. Dia pernah menyebut Suharto King Liar, tapi letupan seperti ini terhitung jarang. Seperti semua priyayi Jawa, Agus lebih suka menyentil daripada mengecam. Kontrol diri seperti ini membuat karyanya menjadi lebih disegani: bagaimanapun juga Indonesia lebih menghormati pribadi yang tetap tenang di bawah tekanan.
Lepas dari kritik sosio-politik seperti ini, dalam lukisan-lukisan terbaru Agus terasa ada sebuah keinginan untuk meraih kembali keseimbangan yang sempat hilang. Instalasi bertema trapeze yang diciptakannya pada 2009, Toys S Us, menampilkan figur-figur (yang tak lain adalah dirinya sendiri) yang bergantungan dengan rapuh tapi tetap dalam harmoni.
Secara superfisial, Agus sekali lagi menjadi badut. Tapi kita juga bisa merasakan obsesi untuk mengembalikan keteraturan. Tampaknya sentimen seperti ini cocok sekali dengan kebanyakan orang Indonesia.
Bagaimanapun, sangat bisa dimengerti bahwa bahkan para pembangkang seperti Agus kini menginginkan kenormalan. Walaupun tetap saja, prinsipnya mungkin tidak akan pernah goyah.
Agus adalah seniman yang memulas keseriusannya dengan canda, teka-teki dan semangat bermain-main. Sebagai orang Jawa sekaligus seorang kontemporer tulen, Agus menari di antara makna ketika dia mengeksplorasi apa artinya menjadi seniman, menuangkan kehidupan ke dalam kanvas, halaman kertas, video dan instalasi, sebelum menyelinap pergi untuk bermain kembali. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !