inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Pasar Ragukan Saham Bakrie

Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
Jumat, 17 Oktober 2008 | 15:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tidak lama setelah tiga saham kelompok Bakrie yakni UNSP, ELTY dan BTEL melantai di bursa, harga ketiganya langsung anjlok. Pasar masih meragukan kondisi anak usaha grup Bakrie itu paska pengenaan suspensi lebih dari sepekan.
Pengamat pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, jatuhnya ketiga saham Bakrie disebabkan tidak yakinnya pasar dengan prospek sahamnya. Menurutnya hal ini biasa terjadi di pasar, terutama bila banyak informasi dan rumor yang beredar di pasar.
"Saya pikir ini hanya masalah keyakinan pasar saja. Rumor beredar banyak sekali. Ini memang biasa terjadi di pasar saham dan kali ini berlaku juga untuk saham-saham Bakrie," ujar Felix kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (17/10).
Setelah mengalami suspensi Selasa (7/10), tiga dari enam saham grup Bakrie mulai dibuka hari ini. Namun, 30 menit berselang, tiga emiten ini terkena penolakan otomatis (auto rejection) karena harga sahamnya anjlok.
Harga saham PT Bakrieland Development (ELTY) langsung anjlok 15 poin (10%) ke posisi Rp 135 dibandingkan penutupan sebelum suspensi di level Rp 150. Adapun volume transaksi tercatat 451.247 lembar saham senilai Rp 30,73 miliar dan 1.053 kali berpindah tangan.
Sementara PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) turun 45 poin (9,78%) ke level 415 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 460, dengan volume transaksi 110.761 lembar saham senilai Rp 23,08 miliar dan 734 kali berpindah tangan.
Kemudian PT Bakrie Telecom (BTEL) anjlok 18 poin (9,73%) ke level Rp 167 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 185, dengan volume 248.076 lembar transaksi senilai Rp 20,78 miliar dengan 262 kali berpindah tangan.
Dalam paparan publik yang digelar pada 12 dan 13 Oktober, PT Bakrie & Brothers (BNBR) menyatakan telah melepas sebagian kepemilikan sahamnya di ELTY dan UNSP.
Sebanyak 15,3% saham Bakrieland dilego ke Avenue Luxembourg SARL (AV) di harga US$ 46 juta. Dengan kepemilikan tersebut, porsi saham AV bertambah menjadi 30,75%. Adapun AV adalah bagian dari hedge fund Avenue Capital Group yang mengelola aset senilai US$ 20,3 miliar (Rp 200,97 triliun) per 31 Agustus 2008.
Sedangkan saham Bakrie Sumatera sebanyak 5,6% dijual kepada Longines Offshore Co Ltd melalui The Royal Bank of Scotland dengan harga US$ 10 juta. Adapun untuk BTEL, BNBR kini masih melanjutkan proses rasionalisasi dengan melibatkan partner strategis yakni konsorsium investor domestik.
Hal ini sesuai aturan yang berlaku, dimana operator jaringan tetap hanya boleh dimiliki oleh investor domestik. Sementara itu investor asing hanya boleh maksimal 49% saham.
Saat ini, imbuh Felix, investor masih wait and see serta melakukan penilaian sendiri tentang kondisi di pasar. Kalau pasar merasa kuat secara fundamental, tentunya mereka akan masuk.
Tapi sekarang mereka merasa informasi yang ada masih belum jelas. "Investor tidak selalu berani untuk ambil posisi. Mereka masih melihat isu yang beredar. Yakin atau tidak yakin," katanya.
Lebih lanjut Felix menuturkan bahwa merosotnya ketiga saham Bakrie ini hanya akan terjadi sementara. Pasalnya, secara fundamental, UNSP yang fokus di bisnis minyak kelapa sawit dinilainya masih cukup menjanjikan. Dengan tingginya permintaan minyak sayur di pasar dunia, saham ini masih prospektif.
Demikian juga untuk saham BTEL dan ELTY, yang menurutnya cukup bagus fundamentalnya. Kejatuhan emiten ini menurutnya hanya karena sentimen pasar.
Kejatuhan saham Bakrie ini sudah diramalkan sebelumnya. Presdir BNBR Nalinkant Rathod sempat meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melanjutkan suspensi saham perseroan sampai transaksi yang dilakukan kelompok usaha itu ditutup.
BNBR juga menyarankan suspensi terhadap unit-unit usahanya dilanjutkan hingga minimal pekan depan. "Jika harga saham-saham tersebut mengalami disstress, maka aksi korporasi ini terancam dan bahkan gagal," katanya beberapa waktu lalu.
Sementara Analis Panca Global Securities Betrand Raynaldi sebelumnya juga mengatakan bawha semua saham di pasar bursa hari ini tidak akan ada yang fight karena semua saham posisinya ambivalen, termasuk saham kelompok Bakrie yang hari ini dibuka suspensinya. "Saya sejak awal tidak terlalu yakin saham Bakrie akan rebound," katanya.
Menurut Bertrand, ketika saham-saham lain jatuh, harga saham emiten kelompok Bakrie yang disuspensi tak terganggu. Sehingga begitu suspensi dibuka jelas akan terpengaruh oleh saham-saham lain.
BEI melakukan suspensi atas enam saham emiten Grup Bakrie, yaitu PT Bumi Resources (BUMI), PT Bakrie and Brothers (BNBR), PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
Suspensi itu dilakukan karena ketidakjelasan informasi mengenai aksi korporasi yang akan dilakukan Bakrie and Brothers atas lima anak usahanya. Akibatnya, pada perdagangan Senin (6/10), harga saham Grup Bakrie itu anjlok lebih dari 30%. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.