INILAH.COM, Jakarta - Tentu Anda sangat sering mendengarkan kata disfungsi ereksi. Namun, kondisi seperti apa sih sehingga seseorang bisa disebut mengalami disfungsi ereksi?
Ada sejumlah defenisi difungsi ereksi yang dikemukakan para ahli. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah yang diajukan oleh World Health Organitzation (WHO).
Menurut WHO, disfungsi ereksi adalah keadaan di mana ereksi tidak bisa dicapai atau dipertahankan dalam jangka waktu tiga bulan. Namun ini batasan ini sering kali masih dipertimbangkan oleh para ahli karena selang waktunya terlalu lama.
Secara normal ereksi akan terjadi pada kejadian atau aktivitas seksual seperti ciumam, bercumbu dengan pasangan, berpelukan terutama bila pasangan merangsang Mr Dick. Biasanya setelah ereksi pada saat bercumbu, akan dilanjutkan dengan pentetrasi ke dalam Mrs V. Selama penetrasi berlangsung, Mr Dick akan tetap ereksi sampai ejakulasi.
Banyak pasangan yang normal melakukan hubungan seks 2-3 kali sepekan. Berarti dalam satu bulan, biasanya melakukan coitus 8-12 kali dalam keadaan normal.
Jika mengacu pada defenisi WHO, artinya dalam tiga bulan sekitar 30-40 kali kegagalan ereksi barulah dikategorikan disfungsi ereksi.
Keadaan ini terlalu lama. Pada umumnya, fungsi tubuh yang tidak normal selama 1 bulan, seharusnya dianggap telah terjadi suatu gangguan, sehingga penderita bisa lebih cepat mengatasinya.
Jadi definisi disfungsi ereksi yang terbaik adalah keadaan di mana ereksi tidak bisa dicapai atau dipertahankan pada saat melakukan aktivitas seksual sendiri atau bersama pasangan selama satu bulan.
Dengan demikian, setiap orang yang mengalami kegagalan mendapatkan dan mempertahankan ereksi selama satu bulan seharusnya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pertolongan. [L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !