INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham yang telah dikeluarkan dan tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) paling banyak 20%.
"Benar, kami telah merencanakan pembelian kembali saham perusahaan sebanyak-banyaknya 20%. Saat ini kami sedang mematangkan rencana, dan pada saatnya nanti akan kami umumkan kepada publik," kata Dirut PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Janurianto dalam keterangan persnya, Minggu (19/10).
Pihaknya telah menyampaikan rencana buyback itu kepada Bapepam-LK dan BEI melalui surat yang dikirim pada Kamis (16/10) lalu.
Dalam surat itu, Direktur Keuangan UNSP, Harry M. Nadir, menyatakan akan menyampaikan surat resmi dan informasi yang diperlukan mengenai transaksi buyback sesuai aturan yang berlaku yaitu Peraturan Bapepam-LK Nomor XI.B.3, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor Kep-401/BL/2008 tanggal 9 Oktober 2008 tentang Pembelian Kembali Saham Emiten Atau Perusahaan Publik Dalam Kondisi Pasar Yang Berpotensi Krisis.
Lebih jauh Ambono menjelaskan buyback itu bertujuan mengembalikan kepercayaan investor kepada perusahaan yang dipimpinnya dan memberikan manfaat optimal bagi pemegang saham. Di sisi lain, UNSP akan memperoleh aset yang baik dengan harga murah.
"Kami sedang melakukan persiapan teknis dan administratif atas beberapa opsi pembelian kembali saham, dan akan memilih opsi yang paling sesuai dengan kondisi perseroan," katanya.
Ia menilai langkah pembelian kembali saham UNSP ini akan memberikan tambahan opsi penggalangan modal di masa depan karena kelak dapat dijual kembali untuk kebutuhan ekspansi usaha.
Namun, Ambono mengakui buyback dapat mengakibatkan naiknya rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio). Kendati demikian, dengan struktur permodalan dan likuiditas perusahaan yang diyakininya masih sangat kuat, ia optimistis bisa mengembangkan usaha ke depan. Apalagi tidak ada utang perusahaan yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.
"Sukubunga perseroan sebagian besar adalah fixed rate (berbunga tetap), sehingga beban bunga akan tetap stabil," ujarnya.
Likuiditas yang sangat kuat itu, lanjutnya, juga terlihat dari rasio antara EBITDA dengan beban bunga (EBITDA over Interest Ratio) yang saat ini mencapai 5,25.
"Jauh di atas syarat minimal. Jadi, sama sekali tidak ada alasan untuk pesimistis," kata Ambono.
Ia juga menegaskan sejauh ini pihaknya tetap melakukan kegiatan bisnis seperti biasa, dan rencana ekspansi usaha pun terus dimatangkan. Kendati diakuinya bahwa situasi krisis keuangan global akhir-akhir ini membawa pengaruh terhadap rencana-rencana itu.[*L2]