INILAH.COM, Jakarta Di tengah penurunan indeks, saham-saham dari sektor semen tergerus cukup tajam. Namun, sektor ini sebenarnya masih seksi, terutama dengan ekspektasi kinerja yang menarik, didukung gencarnya ekspansi.Misalkan saja saham PT Semen Gresik (
SMGR). Setelah penguatan yang sangat kencang beberapa hari terakhir, analis menyarankan investor melepas emiten ini. Salah satunya analis Etrading Securities. Rekomendasi
trading sell untuk SMGR, ujarnya, Kamis (27/5).
Menurutnya, secara teknikal, SMGR telah menguat tajam dan melakukan
break out dari
bolinger band. Kita dapat melakukan
sell dan menunggu
pull back dari saham ini untuk kemudian melanjutkan penguatan. Pasalnya, dari RSI (relative strength index) saham ini telah memasuki area
bullish, katanya.
Kendati demikian, saham SMGR masih menarik untuk jangka menengah panjang. Hal ini terkait rencana perseroan mengakuisisi PT Semen Baturaja dengan kepemilikan minimal 50%. Akuisisi ini akan meningkatkan kapasitas produksi SMGR 19,5-21,5 juta ton. Untuk keperluan ini, perseroan telah menyiapkan dana Rp3 triliun.
Samuel Sekuritas mengatakan, saat ini, SMGR diperdagangkan pada
price earning (P/E) 2011 yang cukup kompetitif sebesar 10,4 kali. Sedangkan PT Indocement (INTP) 14,9 kali dan PT Holcim Indonesia (SMCB) 10,6 kali.
Maintain buy untuk SMGR dengan target harga dapat mencapai Rp9.500, kata Sonny John, analis Samuel Sekuritas. SMGR juga mempelajari kemungkinan memperoleh semen pabrik-pabrik di Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 1,5 juta ton per tahun, sehingga perseroan menargetkan bisa menambah kapasitas produksi 2-3 juta ton/tahun dari akuisisi tersebut.
Meski belum dapat memastikan kapan proses akuisisi tersebut digelar, manajemen lebih menyukai mengakuisisi pabrik di Malaysia karena masalah kedekatannya secara geografis dengan Indonesia dan harga bagus
Seandainya akuisisi ini berhasil, maka pada 2012 kapasitas produksi SMGR menjadi 26,5 juta ton. Tetapi memang, jumlah itu tidak hanya berasal dari akuisisi pabrik saja tetapi mereka juga akan membangun pabrik baru. Tahun lalu, kapasitas produksi SMGR sebesar 18,2 juta ton dan tahun ini mereka mentargetkan bisa tembus 19 juta ton.
Sementara tim riset Danareksa Sekuritas masih menjagokan Holcim (
SMCB), dengan prospek yang masih menjanjikan. Didukung pembangunan pabrik baru di Tuban serta program solusi rumah, perseroan dapat berpijak lebih kuat pada pangsa pasar retail. Kami mempertahankan rekomendasi beli untuk Holcim dengan target harga di Rp 2.750, ujarnya.
Sentimen positif Holcim berasal dari rencana investasi perseroan dengan membangun pabrik berkapasitas 1,4 juta ton di Tuban, Jawa Timur. Pabrik yang mulai beroperasi pada 2013 ini, memiliki estimasi biaya US$400-500 juta, dimana pembiayaan diperkirakan akan menggunakan kombinasi dari kas internal perusahaan serta kredit perbankan.
Dengan pabrik tersebut, Holcim dapat menyuplai lebih banyak semen hingga ke pulau kecil di Indonesia. Holcim pun mulai membangun jaringan untuk keperluan tersebut. Hingga April 2010, kontribusi volume penjualan dari pulau kecil meningkat 25% dari total penjualan domestik.
Di sisi lain, Holcim juga membuat terobosan pasar retail melalui program solusi rumah, dimana pemilik rumah mendapat layanan konsultasi desain, pemilihan bahan bangunan berkualitas, menggunakan sistem konstruksi yang efektif, serta akses pembiayaan. Bekerjasama dengan Bank BRI sebagai penyedia kredit, Holcim memulai proyek tersebut melalui 15 outlet yang kebanyakan berada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Menggeliatnya proyek properti, seiring membaiknya daya beli masyarakat membawa sentimen postiif pada peningkatan kinerja sektor infrastruktur semen. Hal ini didukung rendahnya suku bunga kredit dan penguatan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI), Indonesia per tahunnya membutuhkan rumah baru sebanyak 800 ribu unit.
Sepanjang 2010, konsumsi semen nasional diperkirakan tumbuh 6%-8% menjadi 41 juta ton. Proyeksi itu berdasarkan, antara lain membanjirnya proyek konstruksi dan infrastruktur yang sempat tertunda pada tahun lalu.
Pada perdagangan Kamis (27/5) sesi siang, saham PT Semen Gresik (
SMGR) terpantau turun Rp550 ke Rp8.350, PT Holcim (
SMCB) melemah Rp25 ke Rp2.000 dan PT Indocement (
INTP) terkoreksi Rp700 ke Rp14.900. [mdr]