INILAH.COM, Jakarta Pasar ternyata belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan pemerintah menghadapi krisis finansial dunia. Akibatnya, posisi rupiah melemah tipis. Dolar AS jadi investasi teraman yang diburu saat ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (20/10), melemah dua poin saja. Rupiah diperdagangkan pada level 9.810 di penutupan akhir, melemah dibanding akhir pekan lalu yang 9.808 untuk setiap dolar AS.
Menurut Head of Research Bank Negara Indonesia 1946, Rosady TA Montol, pelemahan rupiah hari ini disebabkan berlanjutnya kekhawatiran pasar terhadap kemampuan pemerintah mengatasi gejolak ekonomi global. Sehingga, investor pun lebih senang memegang dolar sebagai investasi yang aman.
"Para pelaku khawatir terhadap krisis keuangan global. Mereka lebih cenderung membeli dolar AS ketimbang memegang rupiah," katanya.
Regulasi Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang dikeluarkan pemerintah, dinilai Rosady sangat positif untuk mengamankan sektor keuangan dari ancaman krisis. JPSK diharapkan dapat memicu ketenangan di pasar. Namun, investor saat ini belum percaya betul pada langkah yang diambil pemerintah dan relatif sensitif pada sentimen eksternal.
Rosady menambahkan, intervensi Bank Indonesia yang intensif sebagai penjaga moneter mampu menstabilkan rupiah dan membatasi pergerakan rupiah lebih lanjut. Kalau tidak, rupiah diperhitungkan bisa melorot lebih dalam.
Hal senada diungkapkan analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova. Menurutnya, tekanan pasar terhadap rupiah pada sore ini agak berkurang dibanding pagi, setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar.
Menurutnya, apabila BI tidak masuk ke pasar, maka rupiah diperkirakan akan lebih anjlok lagi. Pasalnya, pelaku pasar lebih suka membeli dolar. "BI harus tetap masuk pasar untuk menahan tekanan pasar terhadap rupiah yang terus meningkat," ujarnya.
Lebih lanjut Rully memperkirakan pergerakan rupiah sepekan ini masih akan berkisar antara Rp 9.800-9.850 per dolar AS. Menurutnya, mata uang lokal itu masih cukup aman dari level psikologis 10.000 per dolar AS karena BI tetap mengawasi pergerakan kedua mata uang itu.
Sementara, agar rupiah bisa kembali ke level Rp9.500 per dolar AS, memerlukan waktu yang cukup lama. Kemungkinan untuk itu pun sangat sulit karena krisis keuangan global akan semakin terasa pada tahun depan. "Kami yakin rupiah memerlukan waktu lama untuk bisa mencapai angka Rp 9.500 per dolar AS sesuai dengan asumsi makro ekonomi 2009," katanya.
Hari ini, rupiah ditutup di level 6.644,99 atas dolar Singapura, di level 13.233,50 atas mata uang gabungan negara Eropa, dan di level 6.888,58 atas dolar Australia. [I4]