INILAH.COM, Jakarta - Para pelaku pasar modal diharapkan tidak terlalu panik dengan krisis yang terjadi di Eropa sehingga merespon berbelihan. Sebab Indonesia pernah mengalami krisis yang lebih besar pada tahun 2008 lalu.
Hal itu dikatakan Kepala Bapepam L-K, Fuad Rahmany, saat ditemui di Gedung Bank Indonesia, Kamis (27/5). "Pesan kami jangan panik. karena krisis besar sudah kita alami di 2008," jelasnya.
Kejatuhan IHSG belakangan ini bukan karena faktor eksternal meskipun kondisi ekonomi Indonesia telah pulih sejak krisis tahun 2008 lalu. Kalaupun rontok lebih disebabkan karena pengaruh eksternal. Hal ini seperti terjadi pada perdagangan Selasa (25/5) lalu yang turun hingga 3%.
"Foreign investors hanya keluar sedikit Rp64 miliar. Ada yang beli besar Rp1 triliun lebih, jual Rp1 triliun lebih. Netnya hanya sedikit. itu yang bikin hari selasa turun 3,6 persen bukan karen internal, tapi domestik." ucapnya.
Ia menuturkan, penurunan itu juga disebabkan karena masyarakat berlebihan mengantisipasi krisis Ynunani dan dampaknya kepada eropa. "Mereka mengantisipasi terlalu besar," ucapnya.
Meski demikian, tambah Fuad, kondisi tersebut hanya sesaat. Pasalnya sehari setelah itu, Rabu (26/5), IHSG kembali menguat sebesar 7%. "Kemarin itu koreksi dan sekarang positif. Di pasar modal biasa overshut bisa ke atas atau ke bawah. Kadang penyesuaiannya terlalu besar," tuturnya. [hid]