INILAH.COM, Jakarta Pasar finansial berhasil bertahan di teritori positif setelah menguat sangat tajam kemarin. Tidak berubahnya arah investasi obligasi China di Zona euro jadi salah satu katalisnya. Ariston Tjendra, periset dan analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, pasar finansial hari ini mendapat berbagai sentimen positif. Salah satunya dipicu penguatan kembali euro setelah adanya pernyataan dari otoritas China. Negeri tirai bambu itu mengumumkan, kecil kemungkinan untuk mengubah arah investasinya.
Menurutnya, hal ini menegasikan berita semalam dari Financial Times yang menyebutkan China, sedang mengevaluasi kepemilikannya terhadap obligasi zona euro karena situasi krisis yang terjadi di Eropa. Padahal, China merupakan pemegang cadangan devisa terbesar dunia, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (27/5).
Karena itu, kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (27/5) ditutup menguat 55 poin (0,59%) menjadi 9.255/9.266 dibandingkan kemarin di level 9.310/9.330 per dolar AS.
Times menulis, perwakilan dari
State Administration of Foreign Exchangee (SAFE) China (Administrasi Valas Negara), yang mengatur cadangan devisa bank sentral, telah bertemu dengan para bankir asing di Beijing berapa hari lalu untuk membicarakan masalah ini.
SAFE memiliki sekitar US$630 milar obligasi zona euro dalam cadangan devisanya. Ini berarti China telah mengekspresikan kekhawatirannya mengenai kepemilikan obligasinya di 5 negara zona euro, yakni Yunani, Irlandia, Italia, Portugal, dan Spanyol. Tapi, tadi pagi semua itu dibantah, imbuh Ariston.
Selain itu, pasar juga terdongkrak pembalikan sentimen dari negatif ke positif. Sebab, pelaku pasar yang sebelumnya
wait and see, sekarang sudah kembali ke pasar. Mereka berburu kembali aset-aset berisiko dengan kata lain, tumbuhnya kembali
risk appetite.
Akibatnya, bursa saham di dunia rata-rata mengalami kenaikan 1-2%. Saham regional dan kawasan Eropa juga naik. Artinya, pasar melihat, masalah krisis utang Uni Eropa sudah mereda, ucapnya.
Di sisi lain, tumbuhnya
risk appetite juga dipicu positifnya beberapa data ekonomi yang berada di atas ekspektasi. Di antaranya adalah data
durrable good yang tercatat naik 2,9%.
Begitu juga dengan data pembelian rumah baru di AS, April yang naik 14,8%. Hal ini diperkuat data ekspor Jepang yang naik 40%, dan ekspor Hong Kong 21,7%. Semua angka itu di atas ekspektasi, timpalnya.
Karena itu, dolar AS melemah terhadap semua mata uang utama sehingga membantu penguatan mata uang RI. Begitu juga, dolar AS terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro). Dolar AS melemah ke level US$1,263 dari sebelumnya US$1,215, tandas Ariston. [mdr][[indosat]]