Minggu, 27 Mei 2012 | 02:27 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Setelah SBY
Headline
Oleh: Karim Raslan
web - Selasa, 1 Juni 2010 | 00:36 WIB
BARU-baru ini saya berada di Bandung untuk melihat bagaimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempersiapkan masa pensiunnya.

Partai Demokrat menggelar kongres guna menetapkan rancangan pedoman kerja partai untuk lima tahun ke depan di Padalarang, sebuah kota pinggiran dengan penduduk kebanyakan kaum pekerja, sekitar 30 menit dari Bandung.
Kongres berlangsung di Hotel Mason Pine, yang berada di wilayah hunian elit Kota Baru yang luas. Vila-vila mewah yang berada di pinggir danau terlihat begitu kontras dengan kerumunan pendukung, penduduk sekitar yang ingin menyaksikan, serta para pedagang suvenir yang berkumpul di luarnya.

Dalam pertemuan ini, para anggota partai akan meletakkan dasar-dasar pedoman kerja untuk hari depan tanpa SBY, memilih pejabat partai dan merancang strategi yang diperlukan.
Saya punya banyak pertanyaan. Bagaimana restrukturisasi partai ini? Siapa yang akan memimpin partai yang saat ini menjadi bagian terbesar dari DPR? Apakah SBY akan memilih sendiri kandidat penerusnya, atau memercayakan sepenuhnya pada pengurus partai?
Tentu saja ada calon yang diunggulkan; paling tidak begitulah tampaknya pada saat ini. Mantan juru bicara Presiden, Andi Mallarangeng saat ini menjabat Sekretaris Umum Partai Demokrat adalah figur yang sudah dikenal rakyat. Kebanyakan wartawan termasuk saya sendiri menyukai sosoknya yang lugas dan bersahabat.
Selain itu, tampaknya Andi juga sudah mendapat restu dari presiden. Putra SBY, Edhie Baskoro, terus berada di samping Andi di sepanjang kampanyenya.
Lepas dari ini semua, wajahnya yang tampan dan tersenyum lebar terpampang besar bagai bintang film di papan iklan di seluruh penjuru negeri.
Seolah-olah Andi memanfaatkan wajah fotogeniknya, pesan-pesannya yang menggapai kalangan muda dan kosmopolit, serta kampanye TV-nya yang gencar, untuk mendaki tangga posisi di partainya. Tapi siapalah saya. Saya hanya seorang asing, dan dugaan saya bahwa Menteri Pemuda dan Olahraga ini akan menjadi pemimpin Partai Demokrat berikutnya ternyata meleset.

Apa yang terjadi di Bandung mematahkan dugaan saya. Politik Indonesia terlalu cepat berubah dan susah ditebak untuk meramalkan hasil yang di atas kertas tampak begitu pasti. Kongres Bandung juga membuktikan bahwa SBY lepas dari popularitas pribadinya yang begitu besar harus berpikir dengan hati-hati tentang rencananya setelah 2014.
Alasan pertama, SBY tidak bisa mencalonkan diri untuk periode ketiga pemerintahannya. Warisan kerjanya, partainya, dan timnya sekarang bergantung pada bagaimana dia mengelola masa transisi nanti. Sayangnya, kemampuan mengelola sumber daya manusianya agak mengkhawatirkan.
Dan yang menjadi masalah fundamental adalah kecenderungan Sang Presiden untuk mengumpulkan semua modal politiknya. Dalam tahap ini di tengah-tengah masa tugasnya yang kedua dan terakhir ia harus jauh lebih efektif dalam memanfaatkan daya tariknya. Setelah menyatakan tujuan-tujuannya, ia harus mengidentifikasi dan mendukung pemain-pemain utama yang dapat diandalkan untuk menggalakkan dan melaksanakan agendanya.
Para anggota Partai Demokrat jelas sedang resah. Mereka punya ide mereka masing-masing; dan dengan semakin mendekatnya periode Pilkada, mereka ingin segera bertindak atas ide-ide ini.
Hasil Bandung yang mengejutkan menangnya Anas Urbaningrum sebagai pemimpin partai menunjukkan bahwa anggota partai adalah kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Lebih jauh lagi, saya terkaget-kaget melihat Andi terpuruk ke urutan ketiga, dikalahkan satu lagi kandidat yang low profile tapi kuat, Ketua DPR Marzuki Alie. Kedua sosok ini adalah politikus tingkat grassroots yang handal.
Tak dapat disangkal, anggota partai tetap menaruh rasa hormat terhadap SBY. Tanpanya, Partai Demokrat tidak akan ada. Namun, tanpa instruksi yang jelas dari SBY (dia tidak pernah secara terang-terangan mendukung Andi), anggota partai akan membuat keputusan sendiri.
Walaupun baru berusia 41, Anas jelas sudah mempersiapkan diri bertahun-tahun. Dengan pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa dan koneksinya yang kuat dengan organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, dia telah menciptakan jaringan relasi dan komitmen.
DI samping itu, dengan gaya Jawa-nya yang halus, Anas mengingatkan kita pada SBY. Keduanya kalem, tenang dan sopan pembawaannya.
Tentu saja, banyak yang tidak setuju dengan ini. Seorang pengusaha berkata dengan nada agak merendahkan, bahwa perbedaan antara Anas dan Andi itu seperti retail dan grosir, dan Anas yang lebih 'kelas bawah' di antara keduanya.
Walaupun begitu, Bandung telah membuktikan sekali lagi bahwa SBY, si bapak yang tak kenal menyerah, harus lebih aktif lagi mengurusi proses suksesinya. Yang dibutuhkan lebih dari sekedar mempertahankan warisan kerja dan pengaruhnya. Sang Presiden juga harus memastikan para 'anak didik'-nya dapat diandalkan dan mempunyai ambisi yang sama terhadap Indonesia. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.