INILAH.COM, Jakarta Meskipun saham PT Bakrieland Development (ELTY) sedang terpuruk, namun proyek propertinya masih diminati. Konsumen yakin, nama besar Bakrie bisa menjadi jaminan kelompok usaha ini bisa menyelesaikan proyeknya.
Kepala riset konsultan properti terkemuka Jones Lang LaSalle Anton Sitorus mengungkapkan, dalam kondisi seperti sekarang, memang sulit mengatakan 100% proyek bisa terus jalan. Tapi pengembang besar tidak mungkin kabur dan membiarkan proyeknya terbengkalai.
"Para pengembang besar tidak mungkin mundur, apalagi yang sudah go public, mereka harus menjaga reputasinya," kata Anton Sitorus. Karenanya, meskipun sedang dilanda krisis, proyek Bakrie yang sudah jalan atau setengah jalan kemungkinan besar tidak akan terkena dampak.
Namun, untuk proyek yang baru akan jalan memang ada resiko proyek mengalami penjadwalan ulang. "Kemungkian terbesar proyek akan mundur atau scope proyek dikurangi. Tidak mungkin ditinggalkan sama sekali," tegasnya.
Apalagi tahun ini demand perkantoran sedang sangat tinggi. Hal itu disebabkan perusahanan besar yang terus melakukan ekspansi termasuk perusahaan asing. Tercatat beberapa perusahaan minyak, serta perbankan asing seperti HSBC dan Standard Chartered yang membutuhkan ruang perkantoran dalam ukuran yang sangat luas.
Anton memperkirakan tingkat penyerapan bersih ruang perkantoran tahun ini mencapai 200 ribu m2. Angka ini naik 50% dibandingkan tahun lalu. Sedangkan tahun depan diperkirakan akan melambat dan melemah 30-40%.
Dalam lima hari terakhir ini saham ELTY terus melemah dan menyentuh batas bawah 10% sehingga terkena auto rejection. Pada Kamis (23/10) siang, ELTY itu telah berada di level Rp 94 per lembar, terus melemah dibandingkan pekan lalu saat dibuka suspensinya Rp 135 per lembar. Perseroan berencana buyback saham untuk mendongkrak harga dengan dana Rp yang disiapkan Rp 510 miliar.
Bakrieland memprediksikan penjualan di 2008 tetap sesuai rencana mencapai Rp 1,1 triliun meski saat ini pasar saham di dunia mengalami penurunan. Presiden Direktur Bakrieland Development, Hiramsyah S Thaib mengatakan, penjualan Bakrieland masih sehat.
Per 30 Juni telah diperolehnya penjualan back log sekitar Rp 650 miliar. "Kemampuan memenuhi target penjualan didukung besarnya permintaan atas produk-produk perseroan yang didukung lokasi strategis serta segmentasi produk yang tepat," paparnya.
Perseroan masih memiliki landbank cukup luas mencapai 17 hektar di kawasan bisnis utama, lebih dari 700 hektar di Bogor dan beberapa lokasi lainnya di tanah air. Sehingga dapat mendukung usaha lebih dari 10 tahun tanpa perlu akuisisi tanah tambahan.
"Penurunan harga saham Bakrieland disamping karena isu-isu global juga diperburuk karena adanya forced sell atas investor-investor yang melakukan margin trading. Harga saham Bakrieland akhir-akhir tidak mencerminkan fundamental yang sehat dan prospektif," paparnya.
Per 30 Juni 2008, Bakrieland memiliki posisi neraca sangat sehat dengan net gearing sekitar 5%. Perseroan memiliki kas internal sekitar Rp 800 miliar per 30 Juni 2008 dan dana yang telah disiapkan Avenue bagi Bakrieland sebesar Rp 1 triliun.
Bakrieland juga akan mendapatkan tambahan dana segar dari Limitless (anak perusahaan Dubai World) sebesar US$ 110 juta dolar AS atas selesainya divestasi anak perusahaan yang mengelola proyek City Property sebesar 30%. Sehingga neraca perseroan semakin kuat. [E1]