Minggu, 27 Mei 2012 | 17:59 WIB
Follow Us: Facebook twitter
BPS akan Umumkan Siang Ini
Inflasi Mei Masih Rendah
Headline
IST
Oleh: Asteria
web - Selasa, 1 Juni 2010 | 05:53 WIB
INILAH.COM, Jakarta Beberapa analis memperkirakan Indonesia sepanjang Mei akan membukukan inflasi, karena meredanya dampak panen terhadap harga pangan. Namun, inflasi masih di kisaran rendah akibat pelemahan rupiah.
Lana Soelistianingsih, ekonom sekaligus analis Samuel Sekuritas memprediksikan, angka inflasi Mei (bulanan) akan berkisar 0-0,13% dan tahunan 3,86-3,99%. Ini berarti, angka inflasi secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2010 mencapai 1,15-1,22%.
Beberapa faktor yang memberikan tekanan terhadap indeks harga konsumen (IHK) pada Mei antara lain adalah pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS. Walaupun selama bulan lalu ada pergerakan rupiah yang cukup tinggi dari terendah di Rp.9.025 per dolar AS hingga tertinggi Rp.9.378, tetapi tidak cukup kuat membuat tekanan terhadap angka inflasi secara signifikan.
Dampak pelemahan nilai tukar rupiah ini membuat tekanan pada komponen pengeluaran makanan jadi, dan transportasi. Tekanan terhadap IHK kelompok makanan jadi semakin bertambah akibat kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang akan efektif pada 1 Juli mendatang.
Sedangkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, inflasi Mei akan mencapai 0,1-0,2%. Bahan pangan seperti beras serta bahan kebutuhan pokok lain, seperti cabe merah dan bawang merah, masih menjadi penyumbang inflasi, karena harganya belum turun. "Kami melihat Mei ini kecenderungannya terjadi inflasi bukan deflasi," ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga beras dipicu berkurangnya pasokan beras. Demikian pula harga bawang merah dan cabai yang naik karena stoknya berkurang di tengah situasi musim hujan. Kendati demikian, harga bahan kebutuhan pokok seperti cabe rawit dan minyak goreng mulai turun.
Ia menilai, tingkat inflasi akan terus naik pada bulan-bulan mendatang, seiring dengan datangnya liburan sekolah dan ajaran baru pada Juli 2010 mendatang. Biasanya, ajaran baru ditandai dengan uang sekolah, uang pembangunan, baju baru dan akan membuat inflasi bergerak naik, katanya.
Sedangkan terkait rencana kenaikan TDL, Rusman melihat pasar masih harus mencermati penerapannya. "Jika kenaikan TDL ini terjadi bagi semua pelanggan, inflasi akan tinggi. Sebaliknya jika hanya diterapkan bagi pengguna di atas 2.300 per kWh maka pengaruhnya bisa diatasi," tuturnya.
Namun, kepala ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, inflasi hingga akhir 2010 tidak akan lebih dari 6%. Kenaikan tarif listrik sekitar 10% pada Juni serta wacana kenaikan harga BBM, dinilainya tidak terlalu signifikan.
Untuk inflasi bulanan Mei 2010, Purbaya mematok di angka 0,28%. Ini berarti inflasi tahunannya menjadi 4,15%. Ia menilai, berkurangnya dampak musim panen terhadap harga pangan, membuat tekanan inflasi lebih besar dari bulan sebelumnya. Namun, inflasi bulan ini masih terhitung rendah, paparnya.
Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityasawara memproyeksikan, tekanan inflasi akan meningkat memasuki semester dua 2010. Selain kenaikan komoditi di semester dua yang memicu real demand, inflasi dapat meningkat signifikan jika ada kenaikan TDL. "Kenaikan TDL 10% di semester II nanti bisa signifikan mempengaruhi inflasi," katanya.
Selain itu, imbuhnya, peningkatan permintaan di dalam negeri, juga akan meningkatkan tekanan inflasi. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya fleksibilitas sisi penawaran. Ini akibat lambatnya pembangunan infrastruktur," tukasnya.
Dengan perkiraan inflasi meningkat hingga 5,9% pada akhir 2010 dari 2,8% tahun lalu, maka BI rate pun diproyeksikan naik menjadi 7% pada awal kuartal empat 2010. "Tingginya inflasi membawa implikasi BI Rate akan meningkat di awal kuartal empat 2010 mencapai 7%," ujarnya.
Adapun terkait BI rate, Purbaya memprediksikan suku bunga acuan BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Jumat (4/6) pekan ini masih akan bertahan di 6,5%. Hal ini dengan beberapa pertimbangan, salah satunya ekspektasi angka inflasi 3 bulan mendatang yang masih berada dalam target inflasi BI 5% plus minus 1%. Selain itu tidak ada tekanan nilai tukar, serta belum ada perubahan signifikan dari suku bunga global, katanya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.