INILAH.COM, Jakarta - Manajemen memperkirakan laba bersih PT Timah pada semester 1-2010 akan naik 1.000%. Kendati masih diragukan, para analis merekomendasikan untuk mengoleksi TINS.
Jika ada BUMN yang iri kepada PT Timah (TINS), itu wajar-wajar saja. Maklum, belakangan ini TINS sedang menikmati panen besar. Di pasar dunia, harga timah terus merambat naik.
Hingga menjelang akhir semester I 2010, harganya sudah berada di kisaran US$16.000 per metrik ton (pmt). Dibandingkan harga pada semester I 2009 yang rata-rata hanya US$ 12.000 pmt, berarti mengalami kenaikan 33% lebih.
Tak hanya harganya yang meroket, volume penjualan TINS pun naik pesat. Hingga semester I 2010 volume penjualan TINS diperkirakan akan mencapai 24 ribu ton atau naik 26% lebih dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jelas, kenaikan volume penjualan dan harga itu membuat PT Timah semakin kaya. Krishna Syarif, Direktur Keuangan PT Timah, memperkirakan pada semester I 2010 PT Timah akan membukukan laba bersih Rp428 miliar. Naik lebih dari 10 kali lipat (1.000%), katanya.
Namun Edwin Sembayang, Kepala Riset Bhakti Securities, agak ragu dengan pendapat Krishna tersebut. Dengan kenaikan harga 33% dan volume penjualan 26%, Edwin memperkirakan laba bersih TINS hanya akan meningkat 200-250% dibandingkan periode yang sama 2009.
Prediksi kenaikan laba bersih 10 kali lipat itu terlalu besar kalau hanya berasal dari pertumbuhan organik, kata Edwin. Kecuali bila ada penjualan anak perusahaan atau dari pertumbuhan anorganik, lanjutnya.
Namun begitu Edwin berkeyakinan, harga timah akan terus melonjak. Karena itu, ia merekomendasikan kepada para investor untuk mengoleksi saham TINS.
Prospek penguatan pasarnya masih terbuka lebar. Ini tentu dipicu oleh kenaikan harga timah di pasar dunia, katanya. Edwin memperkirakan, harga TINS pada akhir tahun akan mencapai Rp2.400. Dibanding penutupan pekan lalu yang Rp2.125, berarti akan naik 12%. [mdr]