INILAH.COM, Jakarta Harga minyak kelapa sawit (CPO) dunia terus merosot. Saham emiten berbasis komoditas ini pun berguguran, salah satunya PT Astra Argo Lestari (AALI). Namun, bila investor cermat, ada celah yang bisa mendatangkan keuntungan.
Pada perdagangan Jumat (24/10) siang ini, saham berkode bursa AALI berada di level Rp 5.650 atau turun 600 poin dari penutupan kemarin di level Rp 6.250. Saham AALI terpantau terus anjlok. Pada awal Oktober masih berada di level Rp 10 ribu dan awal September bertengger di posisi Rp 18.200 per unitnya.
Analis pasar modal Muhammad Alfatih mengatakan, harga CPO turun akibat melemahnya permintaan akibat perlambatan ekonomi global serta kondisi pasar saham yang masih dalam tren bearish. Merosotnya harga CPO ini pun berimbas pada jatuhnya harga saham di pasar bursa.
Sementara analis Bhakti Securities Budi Ruseno mengatakan meskipun harga minyak kelapa Sawit (CPO) di pasar dunia terus jatuh dan menyebabkan saham-saham komoditas ini turun drastis, masih ada peluang menarik yang bisa dimanfaatkan investor.
Hal ini terkait harga emiten CPO yang berada pada valuasi sangat rendah, sehingga membuka kesempatan pelaku pasar untuk masuk serta mengoleksi saham tersebut. "Investor bisa mulai mengoleksi AALI karena harganya sudah sangat murah," tambah Budi.
Selain itu, dengan kinerja perseroan hingga September menunjukkan hasil positif sehingga berpotensi mendorong saham AALI dalam jangka pendek ke atas.
Emiten perkebunan milik grup Astra ini mengumumkan hingga kuartal ketiga 2008, perseroan mampu memproduksi CPO sebanyak 706.148 ton atau naik 12,8% dibandingkan periode yang sama 2007 sebesar 626.139 ton. Seebanyak 645.213 ton atau 91,37 % diserap pasar dalam negeri sedangkan sisanya 60.935 ton ekspor.
Tjahyo DA, Investor Relations AALI menyebutkan, harga jual rata-rata minyak sawit mentah perseroan selama periode Januari-September 2008 meningkat 40,9% menjadi Rp 7.995 dari sebelumnya Rp 5.673 per kilogram.
Sedangkan harga jual rata-rata palm kernel oil (PKO) naik 48,7% menjadi Rp 4.252 dari Rp 2.860 per kilogram dan volume penjualan kernel naik 16,7% menjadi 121.291 ton dari sebelumnya 103.939 ton.
Tjahyo optimistis produksi target AALI tahun ini bakal tercapai. Pasalnya, hingga September, produksi CPO AALI sudah mencapai 735.490 ton dari target hingga akhir 2008 di level 990.000 ton. Namun, kinerja ini belum memasukkan unsur perhitungan penurunan harga CPO, karena masih dalam bulan berjalan.
Di sisi lain, Samuel Securities mengatakan, volume penjualan CPO AALI sesuai dengan ekspektasinya yang merepresentasikan 72,8% proyeksi volume penjualan 2008 sebesar 970.014 ton. Naiknya harga jual diperkirakan akan meningkatkan pendapatan dan laba perseroan. Samuel pun menyatakan sedang mereview asumsi atas harga CPO.
Saat ini AALI menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp 1,518 triliun. Sebanyak 35% akan digunakan untuk menambah luas lahan dan akuisisi dan 18% untuk pendirian pabrik serta pembangunan infrastruktur, sedangkan sisanya untuk operasional perseroan.
Sentimen positif terhadap industri CPO juga datang dari kebijakan pemerintah yang menurunkan pungutan ekspor (PE) CPO dari 7,5% pada Oktober menjadi 2,5% di bulan November. Langkah yang diambil seiring turunnya harga CPO di pasar internasional menyebabkan beban emiten berbasis komoditas ini tidak terlalu berat.
Demikian juga kewajiban penggunaan bahan bakar nabati berbasis CPO yang ditingkatkan dari sekitar 1% pada 2009 menjadi 5% pada 2010 diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi industri sawit nasional. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !