Senin, 28 Mei 2012 | 15:12 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Capres 2009, Langkah Blunder Din?
Headline
Din Syamsudin - Inilah.com/Abdul Rauf
Oleh: R Ferdian Andi R
web - Jumat, 24 Oktober 2008 | 13:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Makin banyak calon pemimpin di negeri ini. Kini, giliran Din Syamsudin yang menyatakan dirinya maju jadi calon presiden pada Pemilu 2009. Ada yang menilai Ketua Umum PP Muhammadiyah itu melakukan blunder.
Di tengah belum jelasnya nasib RUU Pemilihan Presiden, calon-calon pemimpin Indonesia terus bermunculan. Jauh sebelum Din, sejumlah nama sudah bermunculan. Sebutlah mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Slamet Subiyanto, Rizal Ramli, Rizal Mallarangeng, hingga Sutiyoso.
Belum lagi mereka yang diusung partai-partai politik besar dan jadi kandidat kuat. Mereka antara lain Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, atau Wiranto.
Din sebenarnya sudah lama tercium akan maju. Mantan Ketua Litbang Partai Golkar ini disebut-sebut sebagai tokoh belakang layar dalam pendirian Partai Matahari Bangsa (PMB). Parpol ini lahir dari kekecewaan Muhammadiyah terhadap Partai Amanat Nasional (PAN).
"Sudah ada dua partai politik yang berkeinginan mengusung yaitu PMB dan Partai Buruh," kata Din di kantor Center for Dialogue and Cooperation Among Civilization, Kamis (23/10) di Jakarta.
Menurut dia, dirinya bersedia, mampu dan sanggup untuk maju sebagai salah seroang pemimpin masa depan. "Insya Allah siap," tegasnya. Dia pun siap melepaskan jabatannya di Muhammadiyah jika terpilih menjadi presiden maupun wapres.
Tepatkah pilihan politik Din? Dalam pandangan pengamat politik M Alfan Alfian, sulit bagi Din untuk mencapai kursi kepresidenan dengan modal dua parpol baru itu. "Tapi, baguslah ada dua partai yang mendukung," tegasnya kepada INILAH.COM, Jumat (24/10) di Jakarta.
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, malah menyayangkan rencana itu. Dia menilai langkah Din secara vulgar. Menurut Qodari, hal tersebut dapat menjadi blunder bagi figur Din.
"Saya melihat itu bukan untuk menaikkan bargaining politik. Saya malah khawatir hal itu akan menjadi blunder politik bagi Din," katanya.
Meski demikian, Qodari menilai, kesedian Din untuk maju dalam pilpres 2009 seperti memberi sinyal kepada partai politik maupun capres lainnya bahwa Din siap untuk maju dalam Pilpres 2009.
Memang setahun terakhir ini, Din relatif dekat dengan kalangan PDI Perjuangan. Dalam momentum keagamaan yang digelar Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap organisaisi Islam di PDI Perjuangan, Din tak segan-segan kerap hadir. Karena kedekatan tersebutlah, Din disebut-sebut bakal mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009.
Namun, spekulasi tersebut tampaknya tak tepat. Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDI Perjuangan Taufik Kiemas menegaskan koalisi Megawati dalam pilpres 2009 mendatang bukan dengan figur, namun dnegan partai politik. "Kita telah memiliki pengalaman dalam Pilpres 2004 lalu. Makanya dalam Pemilu 2009 kita harus koalisi dengan partai politik, bukan dengan figur," kata Taufik.
Pernyataan TK, demikian ia sering disapa, seperti memberikan jawaban terhadap Din yang mulanya ramai disebut-sebut bakal diproyeksikan mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009 mendatang.
Bagi Sekjen PMB, Ahmad Rofik, kesiapan Din bukanlah blunder bagi Din maupun PMB. Menurut dia, pihaknya memang saat ini menyorong Din untuk membidik RI-1 maupun RI-2. "Dari akseptabilitas dan kredibilitas, Pak Din adalah tokoh muda nomor wahid," jelasnya setengah berpromosi.
Meski demikian, PMB cukup realistis jika dalam Pemilu 2009 mendatang tak mencapai suara signifikan. "Jelas kami realitsis. Jika PMB benar-benar tidak memenuhi syarat UU Pilpres, kami bisa menggandeng partai lain dan alternatif gagasan," tegasnya. Dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Oktober ini PMB masuk dalam 10 besar, meski hanya meraih dukungan 1%.
Menurut Rofik, dengan sisa waktu lima bulan menjelang Pemilu 2009, pihaknya optimistis dapat menggenjot perolehan suara dukungan. "Minimalnya 5%, insya Allah bisa kita raih," tandasnya.
Seknario Din maju dengan kendaraan PMB dan Partai Buruh tampaknya bagian dari rencana yang memang telah disusun sebelumnya. Meredupnya sinyal dari PDI Perjuangan, membuat Din banting setir untuk melenggang sendirian. Meski Din dan PMB harus pula ingat dan belajar dari kegagalan Amien Rais dalam Pilpres 2004 lalu. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.