INILAH.COM, Jakarta Setelah bergerak fluktuatif, indeks saham akhirnya berhasil berlabuh di zona hijau siang ini. Penguatan dipicu sektor infrastruktur. Namun, tekanan aksi jual membayang, seiring turunnya harga minyak mentah. Padap perdagangan Rabu (2/6) sesi siang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

ditutup menguat tipis 2,54 poin (0,09%) ke level 2.727,15. Indeks saham unggulan LQ45

juga naik 0,86999 poin (0,16%) ke level 528,15.
Investor asing mencatatkan nilai transaksi jual bersih (foreign net sell) sebesar Rp21 miliar. Dimana transaksi jual mendominasi pasar sebesar Rp470 miliar dan transaksi beli mencapai Rp448 miliar.
Koreksi indeks tidak terlalu mendapat dukungan dari besarnya volume transaksi yang tercatat mencapai 3,812 miliar lembar saham, senilai Rp1,632 triliun dan frekuensi 71.360 kali. Sebanyak 80 saham menguat, sedangkan 94 saham melemah dan 63 saham stagnan.
Sektor-sektor saham bergerak variatif, dimana sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 1,1%, disusul perkebunan 0,5%, aneka industri 0,4%, konsumsi 0,2%, manufaktur 0,1% dan finansial 0,04%. Sedangkan sektor properti dan tambang membukukabn penurunan sebesar 0,8%, diikuti sektor industri dasar yang melemah 0,6% dan perdagangan 0,03%.
Beberapa emiten yang menguat terbesar antara lain Sepatu Bata (
BATA) naik Rp 6.000 ke Rp 36.150, Unilever (
UNVR) naik Rp 450 ke Rp 15.450, Telkom (
TLKM) naik Rp 250 ke Rp 7.700, Smart (
SMAR) naik Rp250 ke Rp3.200, Astra International (
ASII) naik Rp 200 ke Rp 42.950, Elang Mahkota (
EMTK) naik Rp 120 ke Rp 620.
Arga Paradita Sutiono,
research analyst Asia Kapitalindo Securities memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan
sideways cenderung melemah seiring negatifnya pergerakan bursa regional dan global. Indeks akan bergerak dalam kisaran
support 2.696 dan 2.800 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (2/6).
Semua bursa regional bergerak merah dan secara umum, tren pergerakan bursa regional hari ini juga turun. Negatinfya bursa regional, dipicu oleh bank-bank di Eropa yang mulai sakit dengan ancaman kredit macet senilai 195 miliar euro.
Di sisi lain, di market mengindikasikan
capital outflow. Hal ini ditandai dengan penurunan kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) sekitar 3% di pada Mei 2010 lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menjadi
bad news baik
mid term maupun
long term, ujarnya.
Apalagi, secara akumulatif, di bulan Mei bursa saham dilanda
net sell hingga mencapai Rp2 Triliun. Sejak awal tahun sudah keluar Rp2,1 triliun dari total Rp4 triliun
net buy asing. Tapi, menurut Arga,
net sell ini belum bisa dipastikan apakah
capital outflow atau tidak. Sebab, dana itu belum tentu juga lari ke luar negeri, timpalnya.
Keadaan ini diperparah dengan pelemahan kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, ke level 9.220 per dolar AS. Namun, jika dilihat dari equilibrium untuk dolar AS yang berada di level 9.200-9.300, menandakan
capital outflow belum tertalu besar. Tapi indikasi ke arah itu memang ada, tukasnya.
Adapun penguatan indeks di sesi pembukaan pagi, menurut Arga dipicu oleh aksi
spekulative buy sesaat. Sebab, secara teknikal, MACD-nya menunjukkan terjadinya
golden cross. Pelaku pasar memperkirakan, indeks akan
bullish hari ini.
Tapi, untuk jangka pendek, stokastiknya menunjukan
bearish kembali sehingga terjadi momentum untuk jual. Akibatnya, Posisi
seller lebih kuat sehingga
buyer tidak kuat bertahan di teritori positif, tandasnya.
Dalam kondisi ini, Arga merekomendasikan saham-saham defensif, seperti PT Indofood Sukses Makmur (
INDF), PT Astra Otoparts (
AUTO), dan PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS).
"
Speculative buy atau
speculative sell untuk saham-saham tersebut. Artinya, beli hari ini dan harus dilepas hari ini juga atau besok," tutupnya. [ast/mdr]