INILAH.COM, Jakarta Setelah menguat signifikan pekan lalu, beberapa saham diprediksikan masih akan melemah. Mana saja emiten yang mendapat rekomendasi jual?
Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono menyarankan investor melepas saham PT Bank Mandiri (BMRI), PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Astra Argo Lestari (AALI). Menurutnya, masalah ekonomi dunia yang masih panjang membuat pelaku besar menarik diri dari pasar, sehingga saham blue chips akan tertekan. Rekomendasi sell untuk emiten-emiten ini, ujarnya.
Wall Street semalam berakhir turun 1,11%, akibat meningkatnya ancaman kredit macet di perbankan Eropa. Anjloknya euro membuat dana mengalir ke tempat yang lebih aman (risk aversion) yaitu Amerika. Harga surat utang AS pun naik besar.
Menyebarnya isu di Eropa dari masalah utang Yunani ke ancaman kredit macet perbankan, merupakan momok yang ditakuti pelaku ekonomi dan pasar. Hal ini akan menekan sentimen perbankan nasional, katanya.
Adapun AALI direkomendasikan jual karena turunnya harga CPO di pasar dunia. Sedangkan investor disarankan lepas saham ENRG karena adanya tekanan dari koreksi saham di grupnya, yakni PT Bumi Resources (BUMI).
Arga Paradita Sutiono, research analyst Asia Kapitalindo Securities memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan sideways cenderung melemah seiring negatifnya pergerakan bursa regional dan global. Ia pun merekomendasikan jual untuk semua saham tambang, Untuk saham-saham pertambangan semuanya bisa di-sell, katanya.
Di sisi lain, Trimegah Securities melihat ada beberapa emiten yang secara teknikal berpeluang turun. Seperti PT Astra International (ASII), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan PT Jasa Marga (JSMR), Rekomendasi sell untuk emiten-emiten ini, ungkapnya.
Disebutkan, koreksi yang terjadi pada ASII berpotensi untuk menguji support dari trend naik jangka panjangnya. ASII memiliki volume turun empat hari terakhir dan berada di bawah rata-rata dari 20 hari.
Sedangkan stochastic yang sudah berada di area overbought, akan berbalik arah dan mencerminkan minat beli yang melemah. Kami merekomendasikan sell on strength pada level resistance di level 61,8% Fibonacci retracement, yaitu di kisaran Rp43.500-43.550, imbuhnya. Siang ini, emiten otomotif ini terpantau berada di level Rp42.950, atau naik Rp200 dari penutupan perdagangan kemarin.
Demikian pula PGAS yang setelah menguat tiga hari, kembali koreksi diiringi volume yang anjlok signifikan dua hari terakhir dan berada di bawah rata-rata 20 harinya. Stochastic yang berada di area overbought mulai bergerak melambat, menandakan mulai hilangnya minat beli.
Saham PGAS siang ini terpantau merosot Rp50 ke Rp3.750. Rekomendasi sell on strength untuk PGAS pada level resistance di kisaran Rp3.950-3.975 atau yang berada di level 61,8% Fibonacci retracement, ujarnya
Tidak berbeda jauh dengan JSMR yang mengalami koreksi setelah sempat breakout dari resistance downtrend channel-nya. Dimana volume masih dalam trend turun sejak delapan hari terakhir serta berada di bawah rata-rata 20 hari.
Stochastic yang bergerak memasuki area overbought mulai rawan akan munculnya tekanan jual di pasar. Rekomendasi dari kami adalah sell on strength di level 61,8% Fibonacci retracement atau pada level resistance di sekitar Rp1.990-2.000, ucapnya.
Haryajid Ramelan pun menyarankan investor profit taking dulu atas saham JSMR. Meski akan membagikan dividen, kegagalan perseroan menembus resistance trendline 2 hari berturut turut dan RSI yang menurun setelah mengenai garis 50%, mengindikasikan saham ini masih dalam posisi bearish.
Investor bisa profit taking JSMR dengan target harga Rp2.200, ujarnya. Saham perusahaan pelat merah ini, pada perdagangan sesi siang terpantau stagnan di angka Rp1.950 per lembar. [mdr]