INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah mengumumkan delapan nominator kandidat calon presiden RI pada Pemilu 2009. Namun, karena kekuatan individu para nominator kurang merata, porsinya lebih tepat cawapres.
"Melihat nama-nama yang ditetapkan, porsinya lebih tepat pada cawapres. Karena kalau mencalonkan menjadi capres cukup berat. Kader-kader internal tersebut sebagian memiliki pengalaman dan cukup potensial, tapi sebagian lagi belum terlalu kuat. Gradasi skornya tidak sama," kata pengamat politik M Qodari ujarnya saat dihubungi INILAH.COM, Minggu (26/10).
Direktur Eksekutif Indo Barometer ini mengungkapkan, penetapan delapan nama sebagai kandidat capres PKS, itu merupakan hal wajar dan sesuatu yang sah-sah saja dilakukan. Qodari menilai penetapan delapan nama itu masih semacam posisi tawar dan bukan harga mati.
"Penetapan nominator capres juga untuk membangun semangat partai, karena pemilu masih lama. Sebab, sama saja jika tidak mengeluarkan nama-nama, karena semua masih sangat tergantung pada peta capres dan cawapres nanti," jelasnya.
Ketika ditanya siapa tokoh yang paling menjual dari kedelapan nominator capres, Qodari memilih Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Namun menurutnya, kepopuleran dalam PKS bersifat relatif. Sebab dalam PKS, yang ada hanya institusi sebagai mesin partai.
Terkait dengan kemungkinan jika PKS berkoalisi, Qodari mengungkapkan PKS harus berkoalisi dengan partai besar. Karena PKS bersifat islam nasionalis, maka koalisi yang tepat engan partai yang nasionalis seperti PDIP atau Demokrat.[nng]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !