INILAH.COM, Jakarta Kepanikan jual yang melanda bursa regional kembali berimbas pada runtuhnya Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur pada kisaran 1.100. IHSG tak kuasa menahan kuatnya tekanan jual.
Pada perdagangan saham Senin (27/10) IHSG anjlok 78,455 poin (6,3%) menjadi 1.166,409. Indeks LQ-45 turun 16,709 poin (7,12%) menjadi 217,824 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 13,876 poin (7,15%) menjadi 180,075.
IHSG pada awal perdagangan dibuka turun 6,05% di level 1.169 dan terus merosot hingga sesi siang berada di level 1.162. Aksi jual terus terjadi, sehingga pada akhir perdagangan, IHSG ditutup ambruk di level 1.166. Satu-satunya penahan bursa agar tidak jatuh lebih dalam ialah kebijakan auto rejection.
Analis BNI Securities Norico Gaman mengatakan, terpuruknya bursa domestik disebabkan besarnya ancaman terhadap resesi global. Alhasil, investor melakukan aksi jual terhadap sebagian besar saham unggulan untuk menyelamatkan sisa portofolionya.
"Selain itu, sentimen negatif dari buruknya bursa regional dan global juga menekan pergerakan indeks saham," katanya. Bursa regional sore ini ditutup didominasi pelemahan.
Indeks Shanghai Composite di China yang turun 116,27 poin (6,32%) pada level 1.723,35, posisi terendah dalam 25 bulan karena investor masih mengkhawatirkan masalah ekonomi global.
Kemudian indeks Hang Seng di bursa Hong Kong merosot 14.2% pada level 10.827,72, dengan volume transaksi HK$ 42,68 milliar dan saham blue chips turun 20%. Keterpurukan pasar belum dapat dipastikan jangka waktunya sehingga mendorong investor semakin gencar menjual sahamnya.
Bursa Jepang juga terpuruk akibat aksi jual yang dilakukan para investor di tengah menguatnya yen terhadap dolar. Indeks Nikkei turun 486,18 poin (6,4%) pada level 7.162,9 yang merupakan level terendah sejak Oktober 1982 dan indeks Topix turun 59,65 poin (7,4%) pada level 746,46.
Investor lokal kecewa oleh sikap pemerintah melalui Menkeu Shoichi Nakagawa yang membatalkan bantuan dana darurat kepada pasar modal lokal. Mereka juga berharap rapat yang diadakan The Fed dan Jepang tentang pemotongan suku bunga akan dimulai pekan ini.
Indeks saham Vietnam turun 4,6% pada level 329,28 dipicu aksi jual investor yang tidak merasa nyaman untuk mempertahankan saham yang mereka miliki. Sementara bursa saham Filipina ditutup pada 30 menit perdagangan sesi pertama karena anjlok hingga 10%.
Berbeda dengan indeks Kospi di bursa Korea yang justru ditutup naik 0,82% pada level 946,45 setelah sempat melemah hingga 5% atas jatuhnya sektor telekomunikasi dan transportasi. Sentimen positif yang mendorong penguatan berasal dari aksi bank sentral Korea (BOK) yang memangkas suku bunganya 75 bps.
Norico menambahkan, kondisi kekeringan likuiditas turut berdampak pada investasi. Penurunan harga komoditas dunia seperti minyak mentah dan emas, membuat komoditas ini tidak menjadi alternatif investasi yang menarik.
Harga minyak mentah berjangka pada perdagangan hari ini terpantau stabil meski masih berada di kisaran terendahnya dalam 16 bulan. Hal ini dipicu ekspektasi bahwa pemotongan kuota produksi OPEC tidak berimbas signifikan pada anjloknya harga minyak yang memang tertekan akibat penurunan permintaan.
Harga minyak mentah Nymex kontrak Desember turun 22 sen menjadi US$ 63,93 per barel. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, minyak berada turun US$ 3,69 (5,4%) dan ditutup pada posisi US$ 64,15 per barel, level terendah sejak 31 Mei 2007.
Lebih lanjut Norico mengatakan, pelemahan rupiah juga memicu pelaku pasar keluar dari bursa saham dan mengalihkan ke dana tunai berdenominasi dolar. "Terlihat capital outflow dari pasar bursa ke pasar uang dana tunai dalam bentuk dolar," tuturnya.
Perdagangan saham di seluruh lantai bursa mencatat transaksi 19.205 kali, pada volume 1,632 miliar unit saham, senilai Rp 1,161 triliun. Hanya 14 saham yang naik, 162 saham turun dan 19 saham stagnan.
Sedangkan saham-saham yang anjlok antara lain PT Astra International (ASII) yang melorot Rp 900 menjadi Rp 8.100, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 800 menjadi Rp 7.300, PT Astra Agro Lestari (AALI) ambles Rp 550 menjadi Rp 5.100, serta PT Telkom (TLKM) melorot Rp 550 menjadi Rp 5.350.
Demikian pula saham PT Bukit Asam (PTBA) juga turun Rp 450 menjadi Rp 4.150. PT Gudang Garam (GGRM) juga merosot Rp 450 menjadi Rp 4.050, PT Unilever (UNVR) rontok Rp 400 menjadi Rp 6.850, dan PT Indocement (INTP) anjlok Rp 400 menjadi Rp 3.650.
Demikian pula saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 325 menjadi Rp 2.950, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 130 menjadi Rp 1.220 dan PT Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 90 menjadi Rp 850.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Indosat (ISAT) naik Rp 450 menjadi Rp 5.000, PT Apexindo Pratama Duta (APEX) naik Rp 50 menjadi Rp 2.200, PT Dynaplast (DYNA) naik Rp 50 menjadi Rp 570 dan Trada Maritime (TRAM) menguat Rp 34 menjadi Rp 159. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !