INILAH.COM, Jakarta - Sejak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, sejumlah analis selalu menyatakan, inilah saat yang tepat untuk membeli. Tapi terbukti, 'saat yang tepat' itu ternyata tidak tepat.
Dari hari ke hari, harga saham terus longsor. Dan investor yang 'termakan' saran para analis itu pun terpaksa harus mendulang rugi. Tidak kecil, sesuai dengan batas maksimal penurunan untuk auto rejection, mereka selalu merugi antara 9-10%.
Nasihat yang menganjurkan agar investor mengoleksi saham-saham unggulan juga tidak patut lagi didengar. Sebab, kuatnya fundamental perusahaan emiten tidak bisa lagi dijadikan jaminan bahwa harga sahamnya tidak akan turun tajam.
Simak nasib Rudi Santoso yang akhir pekan lalu membeli 100 lot saham PT Telkom(TLKM). Ia melakukan itu setelah mendengar saran dari seorang kepala riset yang mengatakan harga TLKM sudah sampai dasar. Artinya, di hari-hari berikutnya harga TLKM akan mulai merangkak ke atas Rp 5.900 per lembar.
Harapan tinggal harapan, pada Senin (27/10) TLKM malah kembali terjun 9,32% ke level Rp 5.350. Itu berarti, seorang Rudi hanya dalam waktu 1 hari pasar harus merugi sekitar Rp 27,5 juta.
Nasib serupa dialami investor yang mengikuti jejak Rudi. Sebab, hampir semua saham-saham yang berstatus unggulan, kemarin terjun bebas. Aksi jual masih kuat di lantai bursa perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI)
Sebut saja saham PT Aneka Tambang (ANTM), PT Batubara Bukit Asam (PTBA), PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan PT Bank Danamon (BDMN) serta yang lainnya. Semua mencatatkan 'prestasi' yang sama sebangun, turun antara 9,57-10%.
Kendati tak banyak, ada juga memang yang beruntung. Misalnya investor yang mengoleksi saham PT Indosat (ISAT). Sebab sementara yang lain turun seiring menukiknya indeks ke 1.166 (-6,3%), harga ISAT malah naik 9,89% ke Rp 5.000 per saham. "Makanya, saya tidak percaya sama omongan pemerintah bahwa BUMN akan buyback," gerutu Rudi.
Dalam kondisi demikian, lantas apa yang bisa dilakukan investor? Hanya ada dua pilihan: menunggu harga saham yang mereka kempit naik atau cut loss. Kedua pilihan ini, memang sama-sama berisiko.
Kalau jual rugi, risikonya sudah jelas. Tapi kalau menunggu, harus menanti berapa lama? Mending kalau di kemudian hari terjadi rebound, kalau sebaliknya malah terus terjun?
Itu sebabnya, seorang analis menyarankan agar investor untuk sementara wait and see. "Saya sarankan, dalam waktu tiga bulan ini, jangan main dulu. Kecuali kalau Anda punya nyali untuk mengambil risiko," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !