INILAH.COM, Jakarta - Ketidakpastian hanya akan membuat orang frustrasi. Begitu juga dengan tak menentunya kondisi di lantai bursa saham hanya akan menciptakan kecemasan para investor.
Begitulah gambaran dari kondisi di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini, banyak investor kebingungan, banyak juga yang harus meratapi nasib mereka yang dilanda kerugian cukup besar gara-gara salah dalam memprediksi pergerakan saham yang mereka inginkan.
Memang seharusnya tak banyak yang bisa dilakukan investor kecuali bersabar dan terus memantau perkembangan yang terjadi baik di bursa global maupun regional serta memelototi kebijakan yang akan dilakukan pemerintah dan otoritas bursa.
Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan saat ini, kecuali investor ingin melakukan investasi jangka panjang terhadap saham-saham yang memiliki prospek dan kinerja keuangan bagus. Itu sah-sah saja, tapi bagi mereka yang ingin cepat mendapatkan keuntungan, cepat buang harapan itu karena kini bukan saat yang tepat untuk 'bermimpi'.
Kecemasan yang menyebar dari Benua Amerika, Eropa, Teluk dan Asia, terhadap masa depan perekonomian global telah membuat kondisi pasar gonjang-ganjing. Yang terjadi setiap hari adalah transaksi jual di hampir semua pasar di dunia.
Begitu juga dengan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak adanya sentimen positif dan justru sentimen negatif eksternal yang begitu kuat telah membuat semua orang di lantai bursa mulai dari petinggi otoritas bursa, Bapepam-LK, pialang hingga investor kalang kabut menghadapi ketidakpastian yang terjadi di pasar.
Untuk itu, ada baiknya saat ini investor memilih sikap wait and see dan terus memantau perkembangan yang terjadi pada emiten, terutama emiten untuk saham-saham unggulan.
Saat ini mungkin hanya Indosat (ISAT) satu-satunya saham unggulan yang bisa memberikan harapan itu setelah pemerintah mengizinkan tender offer Qatar Telecom untuk menguasai 65% maksimal saham operator telekomunikasi nasional itu. Sedangkan untuk saham-saham bluechips lainnya, tunggu dulu!
Alasannya, sentimen negatif global masih sangat kuat, apalagi indeks Dow Jones semalam kembali ditutup anjlok sebesar 203 poin. Belum lagi harga minyak yang terus merosot dan kini sudah di level US$ 63,22 per barel, level terendah sejak Mei 2007.
Jadi jalan terbaik adalah katakan see you later pada lantai bursa sambil tetap memantau perkembangan yang terjadi.
Sementara itu, IHSG kemarin ditutup anjlok 78,450 poin menjadi 1.166,41, indeks LQ45 rontok 16,709 poin di level 217,82 dan JII jatuh 13,879 poin menjadi 180,07.
Tercatat hanya 14 saham yang menguat, sementara yang melemah mencapai 162 saham dan 19 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan tercatat 981,803 juta lembar saham senilai Rp 696,061 miliar.
Saham-saham yang menguat antara lain Indosat (ISAT) yang naik Rp 450 menjadi Rp 5.000, Apexindo Pratama (APEX) menguat Rp 50 menjadi Rp 2.200, Dynaplast (DYNA) naik Rp 50 menjadi Rp 570 dan Trada Maritime (TRAM) menguat Rp 34 menjadi Rp 159.
Sedangkan saham-saham yang anjlok antara lain Astra Int'l (ASII) yang melorot Rp 900 menjadi Rp 8.100, Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 800 menjadi Rp 7.300, Astra Agro Lestari (AALI) ambles Rp 550 menjadi Rp 5.100, Telkom (TLKM) melorot Rp 550 menjadi Rp 5.350, dan Gudang Garam (GGRM) merosot Rp 450 menjadi Rp 4.050.
Selain itu juga TB Bukit Asam (PTBA) yang turun Rp 450 menjadi Rp 4.150, Unilever (UNVR) rontok Rp 400 menjadi Rp 6.850, Indocement (INTP) anjlok Rp 400 menjadi Rp 3.650 dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) merosot Rp 325 menjadi Rp 2.950. [L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !