INILAH.COM, Jakarta - PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) diperkirakan berpotensi merugi sekitar Rp 5,4 triliun akibat penurunan harga saham.
Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan sejauh ini perseroan menginvestasikan dananya di saham sebesar 18% atau sekitar Rp 11,16 triliun dari dana yang masuk kategori investable senilai total Rp 62 triliun.
"Tentunya jika harga saham anjlok, kami mengalami kerugian. Jumlah itu dihitung dari harga saham tertinggi pada awal tahun ini, yaitu sebesar 2.830,26 hingga saat bursa saham di-suspend kemarin," katanya kepada INILAH.COM, Selasa (28/10).
Investasi dana Jamsostek sejauh ini masih didominasi dari pendapatan tetap, yaitu deposito dan obligasi. Khusus untuk obligasi, dana yang ditempatkan di instrumen tersebut mencapai 46% dari total dana kelolaan. Adapun sisanya dimasukkan di deposito.
Menurut Hotbonar, terdapat tiga bank BUMN yang menyimpan dana Jamsostek dalam jumlah yang cukup besar, yaitu BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, dan Bank Ekspor Indonesia (BEI).
Di BNI, Jamsostek menyimpan dana sebesar Rp 2,7 triliun, BRI sebesar Rp 3 triliun, sedangkan Bank Mandiri di bawah Rp 1 triliun."Adapun, di bank-bank lainnya jumlahnya di bawah ketiga bank itu. Kami juga menyimpan dana di BPD," tuturnya.
Hotbonar juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan memangkas target laba bersih dari sebelumnya Rp 1,1 triliun menjadi Rp 985 miliar. Pemangkasan laba bersih itu tidak terlepas dari kondisi pasar finansial yang belakangan ini memburuk. Target laba bersih itu terpangkas 1,3% dari laba bersih tahun lalu sebesar Rp 998,4 miliar.
Ke depan, Jamsostek akan tetap menggunakan instrumen investasi yang konservatif guna mengantisipasi besarnya kerugian yang timbul akibat memburuknya pasar finansial. "Kami juga akan lebih menahan diri untuk tidak memborong saham-saham penawaran publik perdana. Apalagi saat ini juga tidak ada perusahaan baru yang listing di bursa efek," lanjutnya.
Sebelumnya, Jamsostek mengincar 7% saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang akan dilepas oleh pemerintah. Menurut Hotbonar, Jamsostek akan menggunakan dana likuid perseroan guna membiayai investasi tersebut, yaitu pencairan deposito.
Jumlah perusahaan dan tenaga kerja peserta program Jamsostek pada 2009 ditargetkan tumbuh minimal 20% di atas rencana kerja dan anggaran perusahaan 2008. Target kesertaan yang telah ditetapkan pada tahun ini, yakni 13.381 perusahaan dan 2,4 juta orang tenaga kerja.[L5]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !