INILAH.COM, Jakarta - Sel berbasis glukosa dapat membantu menjalankan alat pacu jantung dan ginjal buatan. Udara yang dihirup dan makanan menjadi kekuatan bagi tubuh, pikiran dan implant.
Sel biofuel pertama yang berkekuatan glukosa dan oksigen telah sukses diimplantasikan ke makhluk hidup. Sel biofuel berbasis glukosa dapat menjadi kekuatan bagi implantasi alat pacu jantung dan ginjal buatan, sama seperti perangkat medis lain.
Menurut Philippe Cinquin, ilmuan dari Joseph Fourier University di Grenoble, Perancis serta salah satu penerbit tulisan di PloS One, kemarin, mengatakan baru pertama kali perangkat tersebut secara sukses digunakan di hewan.
Sel bahan bakar bio dari glukosa dan oksigen ini mampu memberikan keuntungan bagi industri medis. Baterai kecil yang diimplantasikan dengan operasi saat ini menjadi perangkat internal. Perangkat yang dijalankan baterai ini memang bisa bekerja namun saat energinya hilang, dokter harus memindahkan dan mengganti perangkat tersebut.
Di lain pihak, implantasi biofuel ini tidak perlu digantikan, kecuali saat rusak, dan hanya membutuhkan tempat yang sedikit di tubuh manusia. Selama manusia tersebut masih hidup maka perangkat tersebut masih miliki sumber bahan bakar.
Sel bahan bakar baru ini dibuat oleh para peneliti Perancis dengan ukuran dua kali koin yang digabungkan bersama. Kedua sisi dibuat dari grafit yang berisikan enzim berbeda untuk memisahkan oksigen dari udara dan glukosa dari makanan. Saat enzim membelah molekul-molekul tersebut, mereka akan menciptakan energi elektrik kecil.
Sel bahan bakar ini secara keseluruhannya dibungkus kantong plastik bening yang memungkinkan glukosa dan oksigen dapat dilarutkan dalam cairan yang menggenangi sel-sel bahan bakar untuk masuk. Tapi kemudian memenjarakan enzim yang memproduksi listrik.
Saat percobaan, ketika ditanamkan ke dalam perut dua tikus, satu sel bahan bakar menghasilkan energi maksimum sebesar 6,5 millivolts, terlalu lemah untuk perangkat saat ini yang membutuhkan tenaga bagi alat pacu jantung sebesar 10 millivolts. Selanjutnya, implantasi bahan bakar di tanam di tikus lain yang berfungsi selama 3 bulan mendatang dengan energi yang lebih rendah.
Ilmuwan Perancis ini optimistis beberapa tahun mendatang, mereka dapat menjalankan cukup energi untuk kekuatan perangkat unggulan lainnya seperti sphincter buatan bagi pasien yang memiliki prostatektomi radikal atau ginjal buatan bagi penderita diabetes.
Keuntungan lain yang didapat dari sel biofuel ini adalah umur panjang, kata peneliti asal Perancis ini. Baterai implantasi biasanya berakhir 5 hingga 8 tahun, dan selanjutnya harus dioperasi untuk dipindahkan dan digantikan. Namun, sel biofuel implantasi ini dapat berfungsi sebagai enegri elektrik yang benar selama manusia tersebut terus berdetak.
Tahap selanjutnya adalah mencoba sel biofuel implantasi berkekuatan glukosa lebih besar pada babgi, di mana seharusnya memproduksi lebih banyak sel elektrik.
Tes awal dari implantasi berkekuatan glukosa dan oksigen ini selanjutnya siap menjadi beberapa kekuatan besar yang lebih berguna bagi perangkat yang pernah dijelaskan di jurnal-jurnal, imbuh Cinquin. [mdr]