Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah penting yang menjadi perhatian dalam upaya peningkatan kesehatan anak di Indonesia. Sebagian penyakit infeksi dapat dicegah dengan imunisasi, namun tetap harus ditunjang dengan perbaikan gizi keluarga, higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan pemantauan penyakit (surveilans) yang berkelanjutan.
Program imunisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak sekitar 30 tahun telah berhasil menurunkan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti Cacar, BCG, Polio, DPT, Campak dan Hepatitis B.
Sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran, telah banyak jenis vaksin yang direkomendasikan namun belum dapat menjadi program pemerintah karena terkait dengan biaya. Misalnya, vaksin Hib, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, Influensa, Pnemokokus dan HPV. Kondisi tersebut mendorong peran serta pelayanan kesehatan swasta semakin besar untuk membantu menurunkan angka penyakit tersebut.
Ketua Tim PKB (Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan), Dep. Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Sri Rezeki Hadinegoro, menjelaskan, "Program imunisasi telah mengalami perkembangan dalam sepuluh tahun terakhir, hal ini merupakan dampak positif dari terus berkembangnya Ilmu kesehatan dan teknologi kedokteran. Perkembangan ini tentunya harus dapat disikapi dengan positif dan profesional oleh semua profesi kesehatan khususnya yang terkait dengan imunisasi."
Dengan bertujuan untuk lebih meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal khususnya dalam hal imunisasi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM mengadakan kegiatan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) ke 54 The 1st National Symposium on Immunization
Simposium yang dilaksanakan sejak tanggal 17 29 Oktober 2008 ini diikuti tidak kurang dari 400 peserta yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter umum, bidan dan perawat. "Melalui program ini kami berharap para dokter dan tenaga medis dapat melakukan pelayanan imunisasi yang baik, benar dan up-to-date sehingga tujuan dan cakupan imunisasi tercapai," jelas Sri di Jakarta (28/10).
Dalam kesempatan yang sama, Soedjatmiko, menjelaskan bahwa imunisasi secara nyata telah menurunkan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin. Oleh karena itu, dihimbau kepada para tenaga medis untuk terus memberikan informasi yang benar kepada masyarakat akan pentingnya melakukan imunisasi sesuai jadwal.
Imunisasi tidak hanya perlu untuk bayi dan anak-anak, para remaja pun perlu diproteksi dari berbagai penyakit berbahaya seperti Tifoid, Varisela dan juga HPV. "Imunisasi di kalangan remaja belum terlalu populer, padahal sangat penting," tambah Soedjatmiko.
Saat ini IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) telah memberikan rekomendasi terbarunya dalam pemberian vaksin HPV mulai usia 10 tahun. Dengan pemberian vaksin HPV sejak dini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks yang merupakan kanker pembunuh nomor satu pada perempuan di Indonesia.
"Melindungi para remaja putri sejak dini merupakan langkah yang bijaksana, karena pada usia remaja respon tubuh sangat baik dalam menerima vaksin sehingga kekebalan tubuh dalam melawan penyakit dapat optimal. Pemberian vaksin HPV pada usia 10 tahun memberikan kekebalan 2 kali lebih tinggi daripada pemberian di usia dewasa," jelas Soedjatmiko lagi. Vaksin dengan Adjuvant inovatif ASO4 memberikan perlindungan lebih baik kepada remaja putri dan orang dewasa, tambahnya lagi.
Pada saat yang sama Prof Sri juga menekankan pentingnya kepatuhan semua profesi kesehatan dan orang tua akan Jadwal Rekomendasi Imunisasi IDAI. "Pengetahuan, ketrampilan vaksinologi dan juga kepatuhan terhadap jadwal rekomendasi imunisasi ini sangat penting untuk menurunkan angka kematian pada bayi dan anak dalam rangka mencapai Millenium Development Goal 2010," tambah Prof Sri mengakhiri pembicaraan.
Ruli G Communications, ruli@gilangcomm.com