inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Keraguan Warnai Pergerakan ISAT

Headline
Inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ibrahimsyah & M Dindien R
Rabu, 29 Oktober 2008 | 12:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Harga saham PT Indosat (ISAT) sempat menguat pada perdagangan Rabu (29/10) siang meskipun kemudian kembali stagnan. Investor masih ragu tentang besaran harga tender offer Qatar Telecom (Qtel)tersebut.
Pada perdagangan saham pagi, saham ISAT sempat menguat Rp 50 per lembar menjadi Rp 4.850 namun kembali ke level Rp 4.800 seperti penutupan sehari sebelumnya. Pada tiga bulan lalu saham ISAT masih bertengger di level Rp 6.350 per lembar dan sempat menyentuh level terendah pada 8 Oktober silam di level Rp 3.950.
Saham ISAT sempat mendapat sentimen positif dari tender offer saham yang akan dilakukan QTel. Namun besaran harga tender offer saat ini masih belum jelas. Pihak Qatar berharap harga penawaran tender publik menjadi Rp 6.416 per lembar. Namun harga ini jauh lebih rendah dari rencana sebelumnya Rp 7.388 per saham.
Sementara Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) belum memberikan persetujuannya. Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmani mengakui heran dengan perubahan harga ini mengingat sebelumnya QTel semula menginginkan aturan akuisisi menggunakan ketentuan yang lama namun kini malah berharap aturan baru yang dipakai.
Rencananya Bapepam LK akan memanggil manajemen Qtel, hari ini untuk meminta penjelasan mengenai harga tender offer PT Indosat (ISAT). Sebelumnya Chairperson Qtel Grup dan Presiden Komisaris Indosat Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al Thani menyatakan perubahan harga penawaran tender saham ISAT.
Sesuai ketentuan, harga tender offer tidak perlu mengacu kepada harga akuisisi bila pengambilalihan dilakukan secara tidak langsung. Namun harganya minimal sama dengan harga rata-rata tertinggi dalam 90 hari terakhir sebelum pengumuman.
Qtel pada 26 Juni 2008, mengumumkan rencananya melakukan penawaran tender untuk memperoleh seluruh sisa saham biasa seri B di luar saham yang dimiliki pemegang saham utama atau pengendali lainnya.
Perusahaan asal Qatar itu juga berniat membeli saham seri B American Depositary Shares. Rencana itu disiapkan guna mengikuti peraturan Bapepam-LK No. IX. H. 1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka yang belum direvisi. Dalam aturan itu, pengendali perusahaan terbuka sebesar 25% atau lebih diwajibkan menggelar penawaran tender.
Semula, penawaran tender setiap saham seri B ditetapkan sebesar Rp 7.388 yang menggambarkan harga beli per saham yang dibayarkan Qtel kepada penjual. Harga penawaran tender itu lebih tinggi dari harga tertinggi dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum 8 Juni 2008, saat dimulainya negosiasi akuisisi.
Presiden Komisaris Indosat Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al Thani, sebelumnya mengungkapkan, Qtel dalam waktu dekat akan melakukan penawaran tender. Namun hal itu tergantung pada kepastian dari regulator pasar modal Indonesia.
Tender offer dilakukan menyusul Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika yang membolehkan Qtel memiliki saham Indosat hingga 65%. Syaratnya, melakukan pemisahan entitas antara bisnis seluler dan dan fixed Indosat.
Sementara itu riset saham harian Samuel Securities memaparkan, manajemen ISAT saat ini belum bisa memastikan bentuk spin off dari jaringan telepon tetap sebagai
syarat dari pemerintah. Belum jelas apakah membentuk anak usaha atau menjual anak usaha.
"Untuk Indosat kami masih menyarankan hold bagi investasi jangka pendek. Sementara jangka panjang rekomendasi kami beli," paparnya. Saat ini ARPU (average revenue per user/pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) ISAT turun 26% secara tahunan menjadi Rp 39.547 per bulan Jumlah pelanggan menjadi 35.5 juta, dari target 36,5 juta pada akhir 2008.
Mega Capital Indonesia (Megaci) juga dalam risetnya menyoroti utang ISAT yang masih
relatif aman meskipun nilai tukar dolar AS kini sedang melonjak tajam. Sebesar 70% utang ISAT dalam bentuk dolar sudah diamankan melalui hedging (lindung nilai).
Dengan mekanisme hedging, utang ISAT relatif terlindungi dari fluktuatif nilai tukar. "Sekalipun ada pergerakkan marked to market, hal itu tidak berpengaruh secara cash, tetapi hanya hitungan akuntansi," jelas Megaci.
Total utang ISAT hingga akhir September 2008 mencapai Rp 19,1 triliun dengan utang bersih sebesar Rp 12,5 triliun. Dari jumlah utang sebanyak itu, sekitar 32% di antaranya merupakan utang dalam dolar AS dan 68% sisanya dalam bentuk rupiah.
Seluruh utang perusahaan sudah menggunakan fixed rate sehingga tidak ada lagi yang menggunakan floating rate. Sekitar 60% dari utang ditambal dengan obligasi dan 40% d iantaranya dengan pinjaman ke bank.
Total utang tersebut belum memperhitungan pelunasan obligasi seri A pada 23 Oktober sebesar Rp 1,6 triliun. Dari pelunasan tersebut, 35-49% di antaranya berupa dolar AS dan sisanya rupiah. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.